PADANG – Pernyataan berbeda muncul terkait bantuan asing untuk penanganan banjir bandang dan longsor di Sumatra. Meski pemerintah pusat menegaskan belum menerima bantuan internasional, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi justru menyampaikan bahwa sejumlah bantuan dari luar negeri telah tiba dan langsung disalurkan kepada warga terdampak.

Mahyeldi mengatakan, bantuan itu datang dari beberapa negara yang selama ini dikenal aktif bergerak dalam misi kemanusiaan.

“Ada bantuan dari Palestina, dari Gaza melalui kantor mereka di Inggris. Ada juga dari Turki, bahkan mereka datang langsung memberikan,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).

Menurutnya, bantuan tersebut berupa perlengkapan dasar seperti kasur, pakaian, kebutuhan tidur, hingga makanan siap konsumsi. Para relawan tidak ikut turun ke lapangan, namun langsung menyerahkan bantuan kepada pemerintah daerah untuk kemudian disalurkan.

Selain Palestina dan Turki, bantuan juga datang dari Malaysia. Mahyeldi menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap dukungan internasional, selama itu membantu mempercepat pemulihan warga.

“Sebetulnya apakah membuka, kita tidak menghalangi,” ujarnya.

Ia juga menyebut banyak perantau Minang di berbagai negara turut bergerak mengirimkan bantuan sebagai bentuk solidaritas terhadap kampung halaman.

Sementara itu, pemerintah pusat menyampaikan hal berbeda. Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Timothy Ivan Triyono, menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak pernah menolak bantuan asing untuk Sumatra. Namun pemerintah mengakui bahwa sampai saat ini belum ada bantuan luar negeri yang resmi diterima negara.

Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa Indonesia masih mampu menangani bencana secara mandiri, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Penegasan serupa disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang menyebut stok pangan nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan para penyintas.

Prabowo sendiri, dalam beberapa kesempatan, menyampaikan bahwa pemerintah masih sanggup menanggulangi dampak bencana tanpa bantuan dari pihak luar.

Bantuan Sudah Masuk, Status Belum Resmi: Dua Narasi yang Berjalan Bersamaan

Situasi ini menimbulkan dua narasi berbeda:

Di daerah, bantuan asing sudah diterima dalam bentuk donasi langsung dari lembaga, komunitas internasional, atau relawan negara sahabat.

Di tingkat pusat, belum ada bantuan asing yang masuk melalui mekanisme resmi negara.

Perbedaan ini mencerminkan pola baru dalam penanganan bencana: bantuan langsung masyarakat internasional dapat mengalir tanpa melalui kanal diplomatik formal.

Bagi warga terdampak di Sumbar, yang terpenting adalah bantuan tiba tepat waktu—apa pun jalurnya. Namun bagi pemerintah, mekanisme resmi tetap menjadi standar agar koordinasi penanganan bencana berjalan rapi dan terukur. ***