
SELATPANJANG - Menurut Pakar Lingkungan DR Elviriadi MSi, angin puting beliung yang melanda sebagian wilayah di Riau terjadi karena temperatur ekstrim yang bersumber dari perubahan tutupan hutan. Udara panas karena lepasnya karbon naik ke atas dan membentur udara dingin yang terkumpul dalam awan cumulonimbus.
Benturan temperatur berlawanan itulah yang menimbulkan gelombang angin puting beliung. Apalagi saat ini musim pancaroba, peralihan dari panas ke musim hujan tak menentu, sehingga potensi angin puting beliung cukup tinggi.
"Kemarin angin puting beliung melabrak Kampus saya UIN Suska Riau. Kecepatannya diperkirakan 61 km/ jam. Nampaknya angin itu sengaja mencari lokasi pakar lingkungan. Awas, nanti saya tanya apa maunya," canda pria tambun lulusan UKM malaysia itu, Rabu (8/11/2017).
Selain itu, tambah Elviriadi, banjir juga membuat kabupaten/ kota di Provinsi Riau berkuah. Hal tersebut terjadi lantaran drainase jalan tidak memadai. Faktor daerah resapan air juga semakin minim yang disebabkan orang modern hobi menyemen seluruh permukaan tanah, baik pekarangan maupun ruko dan hotel. Anak sungai di kota harus dikeruk, sedimentasi (pendangkalan) oleh lumpur dan limbah sangat tinggi.
Diingatkan Elviriadi lagi, kalau hujan intensif di Kampar, potensi longsor terbesar ada di kawasan Rantau Berangin dan Lima Puluh Koto. Jalan lintas Bangkinang - Sumbar bisa putus dan diikuti kecelakaan lalu lintas. "Jadi hati-hati lah. Tata ruang Propinsi Riau harus serius, nyawa taruhannya," ujar Elviriadi.
Ia mengaku setuju jika Menteri Siti Nurbaya meminta Gubri Andi Rachman membuat kajian ekologi terhadap Rapperda RTRW.
Selain itu, tambah Elviriadi, kondisi PLTA Koto Panjang juga harus diwaspadai dan terus dimonitor. Hujan lebat dari hulu yang disertai lumpur tanah, akan membuat daya tampung waduk abnormal. "Hal ini sudah saya sampaikan ke Bang Edward, Kepala BPBD Riau," aku Elviriadi.
"Di Amerika angin ini disebut Tornado, di Sumatera Barat namanya Bahorok, tapi kalau di Selatpanjang kadang-kadang disebut angin berpuake alias mambang angin," ujar pakar lingkungan yang merupakan anak watan Kota Sagu Kepulauan Meranti itu di akhir bincang-bincang dengan GoRiau. ***