
PEKANBARU - Dibalik kegembiraan dan rasa bangga dengan lolosnya 355 atlet Riau ke Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat 2016, ternyata juga menyimpan sedikit kesedihan. Dimana hal tersebut disampaikan Ketua KONI Riau Emrizal Pakis, Selasa (29/12/2015) siang.
Jumlah 355 atlet yang lolos PON 2015 kata Emrizal memang cukup membanggakan. Namun dibalik sukacita dan rasa bangga itu terselip kesediah dimana dalam anggaran untuk PON 2016 dari Rp70 miliar yang diajukan malah dipangkas menjadi Rp 40 miliar.
"Tidak etis rasanya jika saya membandingkan dengan Provinsi atau daerah lain, namun pada kenyataanya persipan mereka lebih bagus dan matang dengan dana yang luar biasa, contohnya Jambi mereka hanya meloloskan180 atlet, KONI nya mendapatkan dukungan dana mencapai Rp90 miliar untuk persiapan PON 2016.
Terkait pemotongan anggaran KONI itu, dirinya mengaku tidak kecewa. Karena apapun ceritanya, tim Riau harus tetap berjuang dan selalu kompak dengan semua keterbatasan yang ada. "Kecewa sih tidak, tapi saya sedih, karena kesuksesan kontingen Riau meraih prestasi dan lolos ke PON 2016, ternyata tidak didukung oleh anggaran yang memadai," tukasnya.
Dikatakan Emrizal, sebenarnya dirinya berharap persiapan menuju PON akan bisa lebih matang dimana pada pra PON sebelumnya sudah menghasilkan pencapaian yang lebih baik.
"355 atlet yang lolos kali ini ternyata lebih babnyak dari perkiraan kita yang hanya sekitar 150 an. Lolosnya ke 355 atlet ini merupakan kekutan yang dibangun cabor-cabor dan KONI, namun ada sedikit resiko biaya. Dalam delapan bulan kedepan TC harus berjalan, atlet harus sudah latihan penuh yang tentunya juga membutuhkan dana yang cukup besar," jelasnya.
Dan pada waktunya nanti semua atlet akan masuk TC penuh dimana mereka juga perlu tray out dua kali dalam 8 bulan yang akan dilaksanakan baik didalam dan luar negeri. Bahkan sebagaian Cabor menurut emrizal ada yang menginginkan training camp di Jawa dan Bali. "Beberapa cabang olahraga akan melakukan TC ke luar Riau, contohnya renang yang ditangani pelatih asal Prancis tapi ingin melatih di Bali, itu artinya merka juga harus mentap di Bali," tuturnya.
Dengan keadaan yang demikian sulit, menurut Emrizal maka dengan adanya pemotongan dana tersebut, maka dirasa tidak bisa lebih optimal, termasuk bonus PON bagi yang berprestasi.
"Ini yang kita khawatirkan jika dananya sebesar itu, tapi saya tetap optimis dan semua cabor jangan sampai semangatnya kendor, karena target kita tetap masuk ke sepuluh besar. Untuk itu saya berharap agar cabang olahraga yang sudah memastikan diri lolos ke PON tetap semangat, karena KONI Riauakan berusaha mencari solusi mengatasi masalah ini. Salah satunya, KONI bakal melakukan rasionalisasi, termasuk meminta dukungan dana pembiayaan dari dunia usaha," pungkasnya. ***