PEKANBARU – Permasalahan antrean puluhan truk bermuatan kelapa sawit di penyeberangan roro Pulau Rupat menuju Kota Dumai mulai menemukan titik terang. Hal ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Riau bersama Dinas Perhubungan, yang merupakan tindak lanjut dari inisiatif anggota DPRD Riau dari daerah pemilihan Bengkalis, Dumai dan Meranti.

Dalam RDP tersebut, terungkap bahwa kendala utama yang menyebabkan penumpukan hingga sekitar 50 truk sawit adalah terbatasnya armada kapal yang beroperasi. Salah satu kapal roro diketahui tidak dapat beroperasi karena harus menjalani proses docking (perawatan) sejak Desember lalu.

“Memang ada satu kapal yang tidak bisa beroperasi karena docking. Biasanya proses ini memakan waktu sekitar 15 hari, namun terkendala persoalan biaya yang mencapai sekitar Rp1,4 miliar sehingga sempat tertunda,” ujar ketua komisi IV DPRD Riau Ma'mun Solikhin, Kamis (2/4/2026).

Namun terangnya, pihak terkait memastikan bahwa persoalan tersebut kini telah diselesaikan. Pembayaran docking telah dilakukan dan kapal segera kembali beroperasi dalam waktu dekat.

“Informasinya sebelum tanggal 10 bulan ini, kapal sudah bisa beroperasi kembali. Ditambah saat ini juga sudah ada penambahan jam operasional hingga pukul 00:WIB, untuk mengurai antrean,” jelasnya.

Antrean truk sawit ini menurut politisi PDIP ini sebagian besar merupakan milik petani yang hendak menyeberangkan hasil panen mereka keluar Pulau Rupat. Kondisi ini diperparah dengan tidak beroperasinya pabrik pengolahan sawit di wilayah tersebut, sehingga petani harus menjual hasil panen ke luar pulau.

Akibat terhambatnya distribusi lanjutnya, harga sawit di tingkat petani mengalami penurunan drastis. Dari yang seharusnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram, harga di lapangan dikabarkan anjlok hingga sekitar Rp1.700 per kilogram.

“Petani sangat terdampak. Karena distribusi tersendat, ram (penampung) juga tidak bisa membeli, sehingga buah sawit tertahan dan kualitasnya menurun,” tambahnya.

Meski demikian, DPRD optimistis kondisi ini segera pulih seiring normalisasi operasional kapal roro dan penambahan frekuensi penyeberangan. Diharapkan dalam beberapa hari ke depan, seluruh antrean truk sawit dapat terurai dan aktivitas distribusi kembali berjalan normal.

“Insya Allah dalam waktu dekat ini semua bisa selesai, dan aktivitas kembali seperti biasa,” tutupnya. ***