
PEKANBARU – Stadion Mini Gelora Hangtuah yang berlokasi di Kecamatan Kulim, Pekanbaru, kini menjadi pusat perhatian bagi pengembangan talenta muda di bidang olahraga. Sebanyak 1.056 peserta yang tergabung dalam 52 klub sepak bola dari seluruh penjuru Provinsi Riau berkumpul untuk mengikuti ajang bergengsi Piala Dunia Anak Indonesia Regional Riau.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, SE MM, secara resmi membuka turnamen yang menjadi wadah strategis dalam membina atlet usia dini tersebut, Kamis (14/5/2026). Ia menekankan bahwa pemilihan stadion ini sebagai lokasi pertandingan bukan tanpa alasan, mengingat fasilitas tersebut kini menjadi salah satu lapangan sepak bola terbaik di Riau.
"Turnamen ini diikuti lebih dari seribu peserta dari 52 klub se-Provinsi Riau. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh penyelenggara, tim peserta, dan para orang tua yang telah mendukung anak-anaknya," ujar Agung.
Besarnya animo masyarakat dan klub sekolah sepak bola (SSB) menunjukkan tingginya gairah pembinaan atlet muda di Bumi Lancang Kuning. Pemerintah Kota Pekanbaru berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh, termasuk bagi tim yang berhasil keluar sebagai juara dan akan mengemban tugas mewakili Riau pada kompetisi tingkat nasional di Bandung, Jawa Barat.
Agung berharap kompetisi ini tidak hanya sekadar ajang seremonial, tetapi menjadi langkah awal lahirnya bibit-bibit pesepak bola potensial yang mampu menorehkan prestasi hingga level nasional maupun internasional.
Ketua Umum Asprov PSSI Riau, Edward Riansyah, menambahkan bahwa turnamen ini merancang pertandingan untuk empat kelompok usia, yakni U-9, U-10, U-11, dan U-12. Seluruh rangkaian pertandingan dijadwalkan berlangsung intensif selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 Mei 2026.
"Peserta berasal dari seluruh sekolah sepak bola di Provinsi Riau. Untuk kategori usia sembilan tahun ada 10 tim, usia 10 tahun sebanyak 11 tim, usia 11 tahun ada 14 tim, dan usia 12 tahun sebanyak 17 tim. Total keseluruhan mencapai 52 tim," jelasnya.
Dari data penyelenggara, sebanyak 769 pemain terjun langsung di lapangan, didampingi oleh 260 ofisial dan pelatih. Selain menjadi ajang kompetisi, turnamen ini ditegaskan sebagai bagian dari proses pembinaan jangka panjang menuju level sepak bola profesional.
Para peserta diminta untuk terus menjaga semangat dan menjunjung tinggi nilai sportivitas sepanjang laga berlangsung. Fokus utama tetap pada pengembangan karakter dan kemampuan teknis para pemain muda agar mereka siap menghadapi tantangan di jenjang karier yang lebih tinggi.
"Kami berharap anak-anak ini tidak hanya mampu bersaing di tingkat regional dan nasional. Tetapi suatu saat kalian dapat mewakili Indonesia di ajang Piala Dunia yang sebenarnya," tuturnya.***