PEKANBARU- Kelima pasangan calon walikota dan wakil walikota Pekanbaru yang mengikuti Pilwako serentak pada 9 Februari 2017 nanti, memiliki tugas cukup berat untuk merebut hati masyarakat.

Persoalan ekonomi dan krisis kepercaya terhadap pemimpin yang dirasakan masyarakat Kota Pekanbaru, menjadi indikator merosotnya partisipasi pemilih pada Pilwako Pekanbaru nanti. Menariknya, kondisi ini menjadi peluang bagi calon-calon selain incumbent untuk mendapatkan suara liar tersebut.

Terkait diserahkannya kewenangan sosialisasi pasangan calon kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), menurut Pengamat Politik Riau Dr Ahmad Tarmizi Yusa, hal itu tidak begitu berpengaruh terhadap partisipasi pemilih. Apalagi, Kota Pekanbaru yang merupakan ibukota Provinsi Riau dihuni dari berbagai suku yang sebagian besar sudah memahami politik.

"Masyarakat punya harapan besar kelima pasangan calon walikota dan wakil walikota Pekanbaru. Tentu, mereka yang kerja keras dan mampu meyakinkan warga akan menjadi pemenang di Pilwako nanti," kata Dosen Pasca Sarjana Administrasi Publik Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru ini kepada GoRiau.com, Senin (9/1/2017).Baca Juga: Warga Pekanbaru Apatis dengan Pilwako

Kendati ada lima calon, menurut Yusa, belum bisa dipastikan calon incumbent (petahana) memenangkan Pilwako Pekanbaru tahun ini.

"Belum pasti calon petahana menang lagi, mesin birokrasi justru tidak lagi efektif dari berbagai bentuk motivasi yang diberikan. Contohnya dana insentif dan honor yang berkurang. Ini tentu bisa mempengaruhi suara dari kalangan PNS," jelasnya.

Apalagi, lanjut Ketua Bidang Pemerintahan dan Politik Lembaag Adat Melayu Riau ini, masyarakat Kota Pekanbaru sudah melek politik dan sudah cerdas berpolitik.

"Tak ada pengaruh yang signifikan antara sosialisasi politik dengan kondisi masyarakat saat ini," ujarnya.

Dia menilai, mantan Walikota Pekanbaru dua periode Herman Abdullah dinilai konsisten memperhatikan kepentingan masyarakat, termasuk dana insentif dan honor untuk pegawai.

"Persoalan menarik hari ini, orang akan menilai kepemimpinan dimasa Herman dan Firdaus. Ini tidak ada kaitannya dengan majunya anak Pak Herman di Pilwako Pekanbaru tahun ini," tegas Yusa.

Dia mengingatkan pasangan calon yang bertarung di Pilwako nanti agar dapat menyelesaikan kondisi Pekanbaru saat ini, dan benar-benar berbuat untuk masyarakat. "Calon walikota bekerja keras meyakinkan masyarakat, agar mereka jadi pemenang. Yang penting program yang dijual harus terukur dan dilaksanakan, jangan hanya tinggal di atas kertas. Disitulah integritas seorang pemimpin yang kredibel," jelasnya.

"Masyarakat perlu bijaksana dalam memilih, lakukan secara cermat, apabila salah menentukan pemimpin, akibatnya akan berdampak terhadap pembangunan 5 tahun kedepan," tutup Yusa.

Seperti diketahui, kelima pasangan calon yang bertarung pada Pilwako Pekanbaru 9 Februari 2017 nanti, diantaranya, Syahril-Said Zohrin (nomor urut 1), Herman Nazar-Deviwarman (2), Firdaus-Ayat Cahyadi (3), Ramli Walid-Irvan Herman (4) dan Destrayani Bibra-Said Usman (5). *** #PEKANBARU