
PEKANBARU, GORIAU.COM - Abrasi Sungai Pangean, Kuantan Singingi terus terjadi. Bahkan, akibat hujan deras dan banjir bandang pekan ini, sudah menarik pinggir sungai sekitar enam meter. Tak ayal, abrasi ini mengancam warga karena dinding sungai sudah mendekati pondasi rumah warga.
Tokoh masyarakat Kuansing, Ir Mardianto Manan MT, Senin (18/3/2013) di Pekanbaru mengatakan, keresahan saat ini juga melanda warga yang ada di tepi sungai.
"Laporan dari warga di Kecamatan Pangean, terjadi abrasi sekitar 5-6 meter di Sungai Pangean seperti di Desa Pulau Tengah dan Dusun Marabunta di Desa Pauh Angit," ungkapnya.
Maka sebutnya, sudah sepatutnya Pemerintah ada kepedulian untuk antisipasinya agar permasalahan abrasi ini tidak semakin meresahkan warga. Sebab, sebutnya Mardianto, jika tekanan arus tetap tidak berkurang maka dikhawatirkan terjadi abrasi yang mengakibatkan sejumlah rumah warga hanyut dan amblas ke sungai.
"Kalau melihat kondisi seperti yang dilaporkan warga itu. Setelah mengeceknya ke lapangan, kondisi sangat memprihatinkan. Karena, kondisi ini tidak demikian sebelumnya. Namun, sekarang tekanan arus sungai itu jika terjadi musim hujan, mampu mengikis tanah yang mencapai 6 meter. Ini sudah meresahkan," katanya.
Mardianto juga Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Riau ini mengatakan, sesuai pengakuan warga di Pangean, kondisi demikian tidak pernah ada terjadi.
"Dari amatan di lapangan, banjir disebabkan sebagian besar sungai-sungai bermuara ke Sungai Kuantan meluap, termasuk Sungai Pangean. Hal itu dikarenakan dampak dari terjadinya perambahan hutan secara besar-besaran di bagian hulu sungai. Sehingga tidak ada lagi daerah resapan di sepanjang sungai," kata Mardianto.
Bahkan kini sambungnya, akibat terjadinya abrasi di Sungai Pangean tersebut, jembatan yang menghubungkan Desa Pulau Tengah dengan Dusun Marabunta di Desa Pauh Angit, Kecamatan Pangean ini kondisinya juga mulai terancam rubuh yang dikarenakan tanah disekitaran pondasinya tergerus, diakibatkan tekanan air.
"Jembatan besi yang dibangun pemerintah sebagai penghubung Desa Pulau Tengah dengan Dusun Marabunta di Desa Pauh Angit. Kondisinya juga mulai terancam rubuh yang dikarenakan tanah disekitaran pondasinya tergerus tekanan air. Dan kini turap disekitar jembatan mulai turun hingga 10 centi meter," jelasnya. (rdi)