PEKANBARU - Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mendata sebanyak 318 balita mengalami stunting pada tahun 2021. Jumlah itu menurun dari tahun lalu yang mencapai 869 balita.

"Tahun 2021, 318 balita stunting atau 7,9 persen dari total balita yang ada. Tahun 2020, 869 balita," ujar Kepala Dinkes Kota Pekanbaru dr Zaini Rizaldy Saragih, Selasa (14/12/2021).

Stunting disebutkan merupakan gangguan pertumbuhan anak diakibatkan masalah kurang gizi kronis dalam waktu yang cukup lama. Meski anak yang bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting, namun anak dengan stunting akan tumbuh lebih pendek.

Zaini menjelaskan, penanganan stunting menurut perpres 72 tahun 2021 BKKBN ditunjuk menjadi ketua pelaksana penanganan stunting dan disdalduk KB merupakan delegasinya.

"Program-program stunting yang dilaksanakan meliputi intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Kalau Dinkes intervensi spesifik, sedangkan Disdalduk KB berperan dalam intervensi sensitif yaitu meningkatkan cakupan balita mengikuti BKB," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Disdalduk KB Kota Pekanbaru, Muhammad Amin mengatakan pihaknya sudah membentuk Satuan tugas atau Satgas peduli stunting. Satgas ini ada di 12 kecamatan untuk memberikan pembinaan kepada ibu hamil.

"Satuan Tugas Peduli Stunting ini digerakkan oleh remaja,"ucapnya. ***