
PEKANBARU – Di tengah perayaan Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru, muncul harapan baru dari sebagian masyarakat. Mereka meminta pemerintah lebih berhati-hati menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam menyebarkan informasi kepada publik.
Sorotan itu muncul setelah Festival Ketan Talam Durian sepanjang satu kilometer yang digelar Pemerintah Kota Pekanbaru pada Ahad, 21 Juni 2026, menuai berbagai keluhan. Selain persoalan membludaknya pengunjung dan distribusi makanan yang dinilai tidak tertata, perhatian publik juga tertuju pada materi promosi acara yang beredar sebelumnya.
Dalam sejumlah poster dan konten promosi resmi, talam durian digambarkan membentang panjang, rapi, dan berukuran besar. Visual tersebut menimbulkan ekspektasi tinggi di tengah masyarakat. Namun ketika acara berlangsung, sebagian warga menilai kondisi di lapangan berbeda dengan gambaran yang mereka lihat sebelumnya.
Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Riau, Juandono, mengatakan penggunaan AI dalam berbagai sektor memang tidak bisa dihindari. Teknologi tersebut dinilai mampu mempercepat pekerjaan dan meningkatkan efisiensi.
Namun, menurut dia, penggunaan AI tetap harus berada di bawah pengawasan manusia karena teknologi tersebut belum sepenuhnya mampu memahami konteks sosial maupun dampak psikologis yang ditimbulkan kepada masyarakat.
"AI memang membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Tetapi AI belum sempurna dan tidak punya rasa. Karena itu penggunaannya harus tetap diawasi manusia," kata Juandono kepada GoRiau.com, Selasa, 23 Juni 2026.
Ia menilai pemerintah boleh memanfaatkan AI dalam pembuatan materi publikasi maupun penyebaran informasi. Namun hasil yang diproduksi harus diverifikasi kembali sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.
Juandono menyinggung sejumlah kejadian yang belakangan menuai kritik publik, mulai dari penggunaan simbol yang dinilai tidak tepat dalam peringatan Hari Lahir Pancasila hingga visual promosi Festival Ketan Talam Durian yang dianggap tidak merepresentasikan kondisi sebenarnya.
"Di poster talam durian kemarin digambarkan sangat panjang dan megah. Setelah acara berlangsung banyak masyarakat yang kecewa karena ekspektasinya berbeda dengan kenyataan yang mereka temui," ujarnya.
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi pelajaran bahwa teknologi tidak boleh menggantikan sepenuhnya ketelitian manusia dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Ia mencontohkan praktik di Jepang yang dinilainya sangat memperhatikan detail dalam desain produk maupun kemasan sehingga informasi yang diterima masyarakat sesuai dengan kondisi sebenarnya.
"Kalau di Jepang, ukuran dan tampilan produk diperhatikan sangat detail. Bahkan dibuat mendekati kondisi asli. Itu yang perlu menjadi perhatian juga," katanya.
Pandangan serupa disampaikan penggiat seni Pekanbaru, Deni Afriadi. Menurut dia, dunia promosi memang lazim menggunakan visual yang menarik untuk membangun perhatian publik. Namun semakin besar ekspektasi yang dibangun, semakin besar pula tanggung jawab penyelenggara dalam mengantisipasi risiko yang mungkin muncul.
"Nah, dalam manajemen risiko, ketika sebuah event digadang-gadangkan melalui promosi yang besar, harus dianalisis juga kemungkinan yang akan terjadi," kata Deni.
Ia mengibaratkan penyelenggaraan sebuah acara seperti mengelola rumah makan. Bukan hanya makanan yang harus dipersiapkan, tetapi juga tata ruang, alur pengunjung, hingga jumlah petugas yang melayani.
"Semakin besar acara yang dibuat, harus semakin matang pula perencanaan dan pengelolaannya," ujarnya.
Festival Ketan Talam Durian sendiri berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai sajian ketan talam durian terpanjang di dunia. Namun keberhasilan tersebut dibayangi berbagai keluhan masyarakat terkait kemacetan, antrean, hingga banyaknya warga yang tidak kebagian makanan.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho bahkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat. Pemerintah memperkirakan jumlah pengunjung hanya sekitar 5.000 hingga 10.000 orang. Namun yang datang disebut mencapai lebih dari 80.000 orang.
Di tengah evaluasi penyelenggaraan acara tersebut, penggunaan AI dalam komunikasi publik pemerintah ikut menjadi bahan diskusi.
Kajian Kementerian Komunikasi dan Digital mengenai pemanfaatan AI dalam komunikasi pemerintah mengingatkan bahwa penggunaan AI tanpa pengawasan berpotensi menghasilkan informasi yang bias, tidak akurat, atau menyesatkan masyarakat. Risiko tersebut bahkan dapat merusak persepsi publik dan menurunkan kredibilitas lembaga pemerintah.
Pemerintah pusat juga tengah memperkuat tata kelola AI karena teknologi tersebut dinilai berpotensi memunculkan misinformasi dan disinformasi apabila tidak diawasi secara ketat. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam pengambilan keputusan dan penyebaran informasi kepada publik.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa sistem AI dapat menghasilkan informasi yang bias, kurang transparan, dan sulit dipertanggungjawabkan apabila digunakan tanpa verifikasi manusia. Karena itu pengawasan manusia tetap menjadi elemen penting dalam setiap produk komunikasi yang dihasilkan AI.
Bagi sebagian warga, polemik Festival Ketan Talam Durian bukan sekadar soal makanan gratis atau kemacetan. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, keakuratan informasi tetap menjadi fondasi utama kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Di usia ke-242 tahun, masyarakat berharap Pekanbaru tidak hanya menjadi kota yang adaptif terhadap teknologi, tetapi juga kota yang mampu menjaga kualitas komunikasi publik agar tidak terjebak pada ekspektasi yang dibangun mesin, melainkan berpijak pada realitas yang benar-benar dirasakan masyarakat. ***