SAYA senang bisa terlibat sebagai pembicara dihadapan pengurus Komunitas Cerdas Media Kabupaten Bengkalis, Minggu, 29 September 2013. Komunitas ini diberi nama Kacambah atau disingkat KCM.
Proses pembentukannya difasilitasi teman-teman dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Riau. Terpilih sebagai ketua pertama atas nama Agus Supriadi melalui voting terbuka. Kemudian ditunjuk Sekretaris atas nama Zuliat dan Bendahara Deli Andriani. Mereka dibantu oleh jajaran pengurus lainnya.
Secara organisasi, pengurus yang terlibat di KCM terdiri dari berbagai unsur, seperti mahasiswa, pemuda, lembaga swadaya masyarakat dan praktisi media, khususnya televisi dan radio. Tugas mereka kelak: memantau isi siaran lembaga penyiaran yang ada di daerah dan melakukan berbagai edukasi.
Sebab KPID secara organisasi, kepengurusannya hanya sampai di tingkat provinsi, dan tidak menjangkau sampai level kabupaten kota. Jadi secara tak langsung keberadaan komunitas ini perpanjangan tangan dari KPID Provinsi Riau. Begitulah kira-kira.
Alhamudulillah, Bengkalis yang daerahnya berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, menjadi daerah pertama dibentuknya komunitas ini. Saat baru sebatas gagasan dan saya diminta pendapat kala itu, saya langsung bilang yes. Mantap. Gagasan cemerlang. Ane dukung.
Hingga akhirnya terbentuklah komunitas ini dan sayapun ikut dilibatkan sebagai pembicara untuk menguatkan misi kerja yang akan dicapai.
Saya memang tidak besar di negeri terubuk ini. Tapi sudah lebih dari separuh hidup saya berada di sini sehingga hati saya sudah menyatu di sini. Semua tanahnya sudah pernah saya jelajahi dan bahkan sekarang saya menjadi wakil mereka di DPRD Provinsi Riau.
Saya masuk ke Bengkalis sekitar tahun 1989/1990 silam. Saat itu saya masih saudagar kain batin asal Boyolali, Solo. Saya keliling dari kampung ke kampung di seluruh seantero Bengkalis. Secara tak langsung saya paham betul apa yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat Bengkalis, termasuk suguhan media informasi yang mereka terima.
Ya, masyarakat Bengkalis, terutama yang berada di pulau-pulau, kala itu lebih kenal dengan budaya-budaya negara tetangga Malaysia. Apa yang terjadi di Kuala Lumpur (Ibukota Malaysia), mereka langsung tahu. Bahkan nama-nama petinggi di sana, mereka hafal.
Sebut saja, siapa perdana Menteri Malaysia, jika kala itu Abdullah Badawi, mereka akan langsung bisa jawab Abdullah Badawi, atau saat di jabat Datok Mahadir Mohammad, mereka akan langsung bisa jawab Mahadir Mohammad.
Mereka sangat familiar dengan wajah-wajah petinggi ini. Contoh kecil bisa kita lihat di tengah masyarakat di Pulau Rupat. Sebab saban hari mereka disuguhkan siaran-siaran televisi negeri tetangga tersebut, mulai dari canel TV1, TV2, TV3 dan canel lainnya.
Hanya masyarakat yang berduit lebih yang bisa menjangkau siaran nasional. Sebab mereka mampu beli parabola. Terus bagaimana masyarakat biasa, karena mereka hanya mampu membeli antena yang harganya tak lebih dari Rp 100 ribu.
Jika pakai antena biasa, maka siaran dari Malaysialah yang mereka dapatkan. Tampilan siarannya juga jernih. Film-filmnya juga bagus.
Tapi bagi mereka tidak penting mau siaran Malaysia atau siaran mana. Terpenting adalah mereka dapat hiburan. Maka tak heran pula, mereka sangat dekat dengan film-film atau artis-artis Malaysia, sebut saja Siti Nurhaliza, atau artis ngetop tempo dulu, P Ramlee.
Bahkan satu hari saya pernah baca berita di Koran. Ada anak Pulau Rupat yang sempat ditanya oleh seorang wartawan begini: Siapa nama presiden kita. Eh jawabannya Abdullah Badawi (Perdana Menteri Malaysia kala itu). Mestinya dia jawab Bambang Susilo Budhoyono (SBY).
Begitu kemudian ditanya apakah pernah dengar nama Susilo Bambang Yudhoyono? Ia tidak langsung menjawab. Lama pula berpikir. Setelah dibantu menjawabnya, barulah dia paham. Bahwa presiden kita adalah Pak SBY. Jelas miris kita mendengarnya.
Tapi ini fakta yang harus kita hadapi. Siaran yang mudah didapat dari tayangan televisi dan radio negeri tetangga Malaysia, tanpa ada edukasi, jelas memberi dampak yang tidak elok buat generasi kita.
Rasa nasionalisme mereka pasti terkikis dan lama-lama bisa ludes. Contohnya itu tadi, presidennya sendiri saja tidak kenal, apalagi gubernur, apalagi menteri-menteri dan pejabat tinggi negara lainnya .
Jarak Pulau Rupat dengan daratan Malaysia memang tidak jauh-jauh amat. Hanya sekitar 50-an kilometer. Atau hanya sekitar dua jam menggunakan perahu tradisonal. Sungguh sangat dekat. Maka tak heran pula, produk-produk Malaysia banyak beredar luas di tengah masyarakat Rupat dan mungkin juga sampai ke Kota Bengkalis.
Maka alasan itu itu pula, begitu ada gagasan dibentuknya Komunitas Cerdas Media Kabupaten Bengkalis dari rekan-rekan KPID Provinsi Riau, saya tidak butuh berpikir dua kali dan langsung bilang yes dan siap memberi dukungan.
Lewat komunitas ini kita berharap pengurus bisa memberikan semacam literasi media ke masyarakat pesisir tentang penyiaran. Literasi adalah sebuah pembelajaran tentang mengkonsumsi media.
Lewat komunitas ini juga diharapkan mendorong tumbuhnya industri penyiaran di sejumlah daerah pesisir, misalnya industri televisi kabel. Lewat televisi-televisi kabel yang biayanya relatif murah, bisa dengan mudah dijangkau oleh masyarakat biasa.
Saya pikir teman-teman dari KPID setuju dengan ini dan bisa membantu. Daerah-daerah pesisir lainnya juga mungkin mengalami hal yang sama, seperti Dumai, Meranti, Rokan Hilir dan lainnya. Semoga saja dengan program ini, kita bisa ‘Indonesiakan’ masyarakat pesisir Riau, terutama masyarakat di Pulau Rupat.
Kedepan secara utuh masyarakat pesisir kita harapkan bisa memahami siaran mana yang layak dan pantas untuk ditonton bagi anak-anak mereka. Untuk itu: selamat terbentuknya komunitas ini semoga bisa bekerja maksimal. Amin. ***Penulis adalah Ketua Komisi D DPRD Provinsi Riau


