
PEKANBARU, GORIAU.COM - Berdasarkan pemaparan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di hadapan Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Zulkifli Hasan dan Gubernur Riau (Gubri), H Annas Maamun, Selasa (5/8/2014), Riau akan mengalami puncak El Nino pada September-Desember 2014.
Dalam rentang waktu tersebut, curah hujan diprediksi sangat tipis, sehingga kemarau kering berpotensi tinggi. Riau sebagai provinsi yang rutin mengalami kebakaran hutan dan lahan terus berupaya memaksimalkan penanggulangan dan penanganan.
Untuk tahun ini, antisipasi kebakaran dini cuku tinggi. Didukung dengan 8 helikopter yang terdiri dari pinjaman Pemerintah Pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, perusahaan-perusahaan seperti RAPP dan lainnya, upaya antisipasi optimis bisa dijalankan dengan baik.
Menhut, Zulkifli Hasan, menegaskan, tidak ada alasan lagi bagi Riau untuk memperlambat upaya penanggulangan dan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan.
"Pasukan kita ada, personil mencukup dan fasilitas utama serta penunjang jauh lebih baik dari tahun lalu. Ini menjadi modal besar bagi Riau melakukan penanganan maksimal," terang Menhut.
Dirinya menginstruksikan agar patroli udara tetap dilaksanakan. Karena sangat memberikan efek yang bagus terhadap perkembangan di lapangan. Patroli udara dinilai menjadi fasilitas terbaik untuk memantau kondisi lahan dan hutan secara langsung.
"Patroli udara wajib terus dijalankan. Jika ada terlihat titik api, helikopter bisa langsung beraksi atau minimal menginformasikan kepada unit darat terdekat. Apalagi jika kedapatan oknum pembakar lahan di lokasi, langsung saja tangkap," ungkapnya.
Menhut melakukan kunjungan ke Posko Siaga Darurat Bencana Asap Riau di Lanud Resmin Nurjadin Pekanbaru, Selasa (5/8/2014) kemarin. Dimana dirinya bersama pihak terkait melakukan peninjauan terhadap kesiapan Riau menangani bencana dan kabut asap ke depan.
Usai meninjau posko, Menhut didampingi Kapolda Riau meninjau Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), tepatnya di Bukit Apolo yang sebelumnya sempat ditanami kebun kelapa sawit untuk kemudian ditumbangkan.
Menhut mengecek perkembangan lahan dengan kurang lebih 200 hektar tersebut, apakah kembali ditanami oleh orang yang tidak bertanggung jawab atau masih seperti saat tim membasmikan pohon-pohon sawit tersebut sekitaran Mei 2014 silam.***