PASIR PENGARAIAN, GORIAU.COM - Multajam Tarigan, salah seorang warga Rokan Hulu, Riau ternyata memiliki green house dengan tanaman Kantong Semar terbesar di Sumatera. Di green house yang diberi nama Yagize Nursery itu terdapat 10 ribu tanaman kantong semar yang masuk kategori langka.

''Saya mengembangkan tanaman kantong semar atau nepenhes ini karena tamanan jenis anggrek ini termasuk langka di dunia. Sementara itu di Dusun Sungai Bungo Desa Sialang Jaya Kecamatan Rambah, tanaman yang disebut warga tempatan, Kutakuo itu, banyak tumbuh. Ini tanaman langka yang bernilai jutaan rupiah perbatang,'' ujar Multajam, Selasa (7/1/2014).

Dikatakan, kantong semar merupakan komoditi ekspor ke mancanegara seperti Inggris, Belanda, Malaysia, Thailand dan negara lainnya. ''Tanaman ini hanya hanya tumbuh di Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua termasuk di Malaysia dan Pilipina,'' ujar Multajam yang merupakan warga Desa Koto Tinggi Kecamatan Rambah.

Dikatakanya, di green house di Jalan Hantuah No.108, selain kantong semar lokal juga terdapat tanaman kantong semar asal Kalimantan yang harganya paling mahal. Ini merupakan hasil perkawinan sistim silang. ''Jika saya tak salah, ini adalah green hause terbesar di Pulau Sumatera dengan tanaman kantong semar,'' ujarnya.

Diakui Multajam disela-sela merawat tanaman kantong semarnya di Green Hosue miliknya, dari tanaman dikembangkannya sudah ada dikirim ke Inggris, Belanda, Thailand, Malaysia termasuk di sejumlah daerah di Indonesia lainnya. Bukan itu saja, dengan sistem penjualan melalui facebook maupun dunia maya lainnya, Multajam mempopulerkan tanaman kantong semarnya.

''Saat ini, perkumpulan pencinta kantong semar baik di Indonesia maupun negara lainnya, tengah mengembangkan tanaman kantong semar, selain takut nanti diklaim negara lain, juga keberadaannya banyak dari Rohul yakni dari Dusun Sungai Bungo Desa Sialang Jaya. Selain itu, memiliki nilai komersial tinggi, dan menjanjikan,'' kata Multajam lagi.

Bukan itu saja, Multajam mengakui, spesies Kantong semar, sekitar 75 persen dari Indonesia termasuk Rohul sendiri gencarnya mempromosikan kantong semar Rohul melalui dunia maya, bahkan baik Dirjen Kementrian Kehutanan RI pernah datang ke lokasi green house Multajam, juga warga Malaysia.https://www.goriau.com/assets/imgbank/07012014/kantong2jp-646.jpgTanaman kantong semar di green house milik Multajam.

''Tanaman kantong semar di negara-negara maju sangat terkenal. Sayangnya di Rohul masyarakat tidak mempedulikannya, padahal memiliki nilai komersil tinggi, dan harganya juga berdasarkan harga US Dolar,'' ucap Multajam.

Multajam mengakui, spesies kantong semar asal Rohul, ada 8 jenis seperti Gracilis dan Mirabilis yang nilai jualnya 7 US Dolar per pohon, lalu Ampularia spot dan ampularia green harganya 10 US dolar per pohon. Sedangkan untuk jenis Albomeuginata termasuk Reinwardtiana dijual 15 US dolar, dan termahal jenis Sumatrana juga Logifolia bisa capai 15 hingga 20 US dolar.

''Saat ini yang termahal masih dari Kalimantan, bisa mencapai 150 US dolar (tanaman kecil) hingga 300 US dolar (tanaman besar) atau bila dirupiahkan capai Rp3 juta lebih per pohonnya. Kita rutin mendapatkan orderan, mengirimkan tanaman kantong semar, baik dalam negeri bahkan ke mancanegara, sesuai permintaan yang dikirimkan melalui paket ekpedisi,'' tegas Mul lagi.

Walaupun masih terkendala air serta litsrik, hingga kini belum sampai ke rumah dan tempat green house lokasi pengembangan kantong semar, namun Multajam mendapatkan angin segar karena Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Rohul, sudah mengajak kerjasama dengan dirinya yakni untuk pengembangan tanaman kantong semar di Sungain Bungo. Bahkan, Desember 2013 lalu, sudah dilakukan pelatihan cara penanaman kantong semar ke masyarakat tempatan, dan langsung cara pengembangannya.

''Kita harapkan, dengan adanya tanaman asli asal Rohul yang miliki nilai jual tinggi namun belum dibudidayakan dan komersialkan dengan baik padahal penjanjikan, maka di tahun 2014 ini diharapkan, tanaman kantong semar di Rohul bisa dipertahankan keberadaannya terutama di daerah asal Sungai Bungo,'' ujar Multajam. (srt)