
TAMBANG, GORIAU.COM - Anggota Komisi IV DPR RI, Wan Abu Bakar mendengar langsung curahan hati (curhat) petani jagung yang ada di Desa Kembang Indah, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (11/11/2012). Dari curhat petani, ternyata, tidak hanya petani di Jalan Kertama Pekanbaru saja yang kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi, namun juga dirasakan oleh petani jagung di Kembang Indah.
Keluhan itu diterima Wan Abu Bakar dari koordinator petani jagung, Desa Kembang Indah, Kecamatan Tambang, Rodiah usai panen raya jagung, Minggu (11/11/2012). Rodiah, petani jagung mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi bantuan pemerintah pusat, padahal pupuk sangat mempengaruhi hasil panen petani.
''Kami ini petani jagung mandiri tanpa bantuan pemerintah, baik bibit maupun pupuk. Meski demikian hasilnya cukup memuaskan, kalau pupuk kurang hasilnya juga akan berkurang. Selama ini setiap kali panen kami mendapat keuntungan Rp1,5 juta per dua bulan 10 hari,'' kata Rodiah.Mendengar laporan petani tersebut, Wan Abu Bakar mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan program pupuk bersubsidi pemerintah pusat tak sampai ke petani. Padahal program itu merupakan program nasional yang seharusnya dinikmati masyarakat petani untuk meningkatkan perekonomian mereka.
''Ini merupakan suatu prestasi yang dilakukan masyarakat Kembang Indah, mereka giat bertani jagung yang berkualitas yang merupakan salah satu bahan pangan masyarakat kita. Walaupun perhatian pemerintah masih kurang terhadap petani di desa ini, tapi petani tetap semangat dan membuahkan hasil panen yang bagus,'' ujar Wan Abu Bakar.
Lumbung Pangan
Wan Abu Bakar menilai pertanian jagung perlu digalakkan, karena merupakan makanan pokok masyarakat. Selama ini perhatian pemerintah sangat kurang termasuk mengenai keberadaan penyuluh pertanian, khususnya di Kampar.
''Pemerintah telah menyediakan Rp15 triliun untuk subsidi pupuk yang harus didistribusikan ke petani, tapi kenapa masih langka pupuk bersubsidi sampai ke masyarakat. Saya akan sampaikan ini ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian,'' ucapnya.
Lebih lanjut Wan Abu Bakar mengatakan, Kabupaten Kampar merupakan daerah dengan potensi pertanian yang sangat menjanjikan. Karena itu kabupaten ini harus dikembalikan menjadi lumbung pangan Riau, sebab potensi tersebut sangat besar.
''Keterbatasan yang selama ini terjadi adalah petani tak mendapatkan pupuk bersubsidi, bantuan bibit dan kurangnya penyuluhan dari petugas penyuluh kita. Padahal setiap tahun pemerintah mengangkat tenaga penyuluh melalui penerimaan CPNS. Kedepan ini yang harus diperhatikan agar Kampar bisa menjadi Lumbung Pangan Riau kembali," tegasnya. (rls)