
PEKANBARU – Dunia perguruan tinggi Indonesia, termasuk Universitas Riau (Unri), tengah menghadapi era transformasi yang dinamis. Di tengah gelombang perubahan regulasi dan standar akreditasi nasional yang semakin ketat, Fakultas Pertanian Unri justru menyambutnya dengan penyegaran kepemimpinan. Sejumlah pejabat baru, termasuk di Jurusan Agroteknologi, dilantik secara resmi oleh Unri.
Pelantikan ini diharapkan menjadi titik tolak baru, khususnya bagi Agroteknologi Unri, untuk menjawab tantangan sekaligus merengkuh peluang di bidang pertanian modern. Dalam sambutannya, Rektor Unri menekankan pentingnya integritas, sinergi, dan kolaborasi dalam menjalankan amanah.
“Mari bersama-sama memberikan pelayanan yang berdampak bagi sivitas akademika Unri dan masyarakat,” pesan Prof. Sri Indarti, seraya meminta kontribusi terbaik dari para pejabat baru bagi kemajuan universitas.
Secara terpisah, Ketua Jurusan Agroteknologi yang baru, Dr. Deviona saat dijumpai Goriau di ruangannya pada Kamis (11/12/2025) sore akui bahwa tantangan yang dihadapi ke depan cukup berat. Dunia pendidikan tinggi, menurutnya, sedang berbenah dengan sejumlah regulasi baru dari Kementerian. Ia menyebut Permendiktisaintek 39/2025 membawa perubahan besar bagi perguruan tinggi yang tidak hanya cukup untuk memenuhi standar nasional namun juga mendorong perguruan tinggi untuk lebih kompetitif, sistem yang lebih fleksibel, adaptif dan didukung teknologi untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing
Salah satu perubahan mendasar adalah sistem akreditasi. Target untuk meraih predikat Unggul menjadi PR berat yang harus segera dijawab.
Asosiasi profesi juga mendorong pembaruan. Paguyuban Agroteknologi Indonesia, misalnya, menekankan pentingnya memasukkan bidang-bidang kekinian ke dalam kurikulum. “Seperti mata kuliah pertanian presisi, system manajemen pertanian modern yang menggunakan teknologi canggih, seperti sensor, drone GPS dan analisis data. Sebagai contoh dalam pemupukan kita bisa menggunakan drone dan lain sebagainya jelasnya. Mata kuliah seperti pertanian presisi menjadi kunci untuk menyiapkan lulusan yang relevan dengan industri," jelasnya.
Pijakan kerja baru ini, baik bagi jurusan maupun universitas, adalah Indeks Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan Kementerian. Deviona menjelaskan, kini ada 11 IKU yang harus dipenuhi IKU-iku ini menjadi kompas bagi seluruh aktivitas tridharma perguruan tinggi.
Beberapa IKU yang menjadi fokus perhatiannya antara lain: efisiensi dan keberhasilan studi tepat waktu (IKU 1), tracer study lulusan yang bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi (IKU 2), partisipasi mahasiswa dalam kompetisi (IKU 3), rekognisi internasional dosen (IKU 4), kerja sama dan hilirisasi hasil penelitian ke industri (IKU 5 & 6), kontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs) (IKU 7), peran dosen dalam penyusunan kebijakan (IKU 8), pendapatan non-UKT (IKU 9), hingga kualitas layanan dan akuntabilitas keuangan (IKU 10 & 11).
“Hampir semua sekarang itu ya, hibah-hibah itu harus memiliki mitra,” ujarnya, merujuk pada IKU kerjasama. Penelitian tidak lagi sekadar menghasilkan publikasi, tetapi harus berdampak langsung. “Kita punya penelitian ini, kita punya prototipe atau suatu alat, tapi pernah tidak digunakan hasil penelitian kepada masyarakat?
Strategi Membangun Sinergi
Untuk menjawab tantangan tersebut, Deviona menegaskan bahwa jurusan tidak bisa bekerja sendiri. Strategi utamanya adalah membangun sinergi dan kolaborasi. Di level internasional, jurusan telah mulai menjajaki kerja sama dengan negara seperti Jepang. Kerja sama penelitian dan hibah dimanfaatkan tidak hanya untuk pengembangan ilmu dosen, tetapi juga melibatkan mahasiswa agar pengetahuan mereka selalu ter-update.
Di internal kampus, peningkatan kompetensi SDM menjadi prioritas. Deviona mendorong dosen-dosen muda (masih S2) untuk melanjutkan studi S3, sebaiknya ke luar negeri, untuk membuka wawasan. Ia juga berencana mendatangkan pakar dari perusahaan nasional sebagai dosen tamu, untuk menjembatani kesenjangan antara teori di kampus dan kebutuhan di lapangan.
“Kita juga ingin mendesain kegiatan mahasiswa yang memiliki dampak positif,” tambahnya, merujuk pada program magang yang kini diarahkan pada magang berdampak. Kuliah tamu dan pelatihan juga diintensifkan agar mahasiswa memiliki standar yang setara dengan perguruan tinggi lain.
Sekretaris Jurusan Agroteknologi yang baru, Irfandri SP MSi, sebagai Sekretaris Jurusan, menambahkan komitmen untuk memperbaiki manajemen layanan di tingkat jurusan. “Yang dikeluhkan itu kan tentang manajemen. Tentu yang manajemen ini yang akan kita benahi. Bagaimana manajemen di jurusan ini. jangan terlalu lama (mahasiswa tamatnya). Biasanya kan ini yang terlalu lama, ini yang mau kita percepat,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya koordinasi dengan Ketua Jurusan agar tidak ada vacuum of power yang memperlambat pelayanan kepada mahasiswa dan dosen.
Harapan untuk Empat Tahun Ke Depan
Memasuki periode kepemimpinan empat tahun ke depan, harapan besar diletakkan pada transformasi ini. Deviona berharap terjadi peningkatan signifikan pada kualitas SDM, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa. “Berharap sih lebih baik dari sekarang. Walaupun saya nggak berani bilang, kita berharapnya unggul,” ucapnya tentang target akreditasi 2028.
Lingkungan kerja yang kolaboratif dan suasana akademik yang kondusif, menurutnya, adalah kunci. “Lingkungan yang bagus akan membuat kita lebih semangat untuk bekerja.” Ia yakin, jika setiap orang menyumbangkan kemampuannya, bahkan 10% saja, kolaborasi akan menghasilkan capaian 100%.
Irfandri punya komitmen konkret mempersiapkan akreditasi sejak dini. “Kita sudah ancang-ancar. Kita bentuk timnya lebih awal. Kita jangan nanti kepepet di waktu. Dari sekarang kita sudah bisa mempersiapkan diri,” katanya. Persiapan matang, termasuk memberdayakan dosen-dosen muda dalam tim akreditasi, diharapkan bisa membawa Agroteknologi Unri meraih predikat unggul.
Pelantikan pejabat baru di Fakultas Pertanian Unri, khususnya di Jurusan Agroteknologi, memang lebih dari sekadar seremonial. Ia adalah deklarasi kesiapan untuk bertransformasi. Di bawah kepemimpinan wajah-wajah baru ini, Agroteknologi Unri bertekad tidak lagi sekadar “jago kandang”, tetapi menjadi jurusan yang relevan, berdampak, dan kompetitif di kancah nasional bahkan global. Perjalanan menuju “Unggul” 2028 telah dimulai, dengan langkah-langkah strategis yang berporos pada kolaborasi, inovasi, dan pelayanan yang berdampak. ***