PEKANBARU, GORIAU.COM - Kalau di Jakarta jasa penagihan atau dikenal depkolektor dibubarkan karena kerap menggunakan cara kekerasan, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi Riau justru 'memeliharanya'.

Alasannya cukup logis, ketika lebih 3 ribu buku di Perpustakaan Wilayah Soeman HS hilang digelapkan peminjamnya. Maka tidak ada pilihan lain, selain menggunakan jasa depkolektor (penagihan eksternal) untuk mengatasi kasus yang telah merugikan itu.

Kepala BPAD Riau, Chairul Riski, di Pekanbaru, Selasa (24/9/2013), mengatakan, ada sekitar 14 orang depkolektor yang dipakai untuk mengatasi penggelapan buku di perpustakan.

Riski menjelaskan, sebelumnua sebanyak 3.000 buku ilmu pengetahuan koleksi Perpustakaan Daerah Riau hilang dipinjam setiap tahunnya.

Ribuan buku seri terbaru hingga kategori langka itu, kata dia, kerap dipinjam oleh sejumlah mahasiswa di seluruh Riau namun tidak pernah dikembalikan lagi.

Ia mengatakan, ribuan mahasiswa dan para pelajar yang menjadi pengunjung mayoritas di gedung perpustakaan daerah Riau Soeman HS setinggi tujuh lantai itu ketika meminjam ternyata tidak mau mengembalikan lagi buku pustaka tersebut.

Untuk mengembalikan buku-buku yang digelapkan itu, demikian Riski, maka diperlukan upaya dari eksternal dengan menggunakan jasa depkolektor. "Selama menggunakan jasa depkolektor itu, sudah lebih seribu buku telah dikembalikan dan saat ini kembali terpajang di pustaka," katanya.

Riski menjelaskan, upaya yang dilakukan oleh depkolektor tersebut bukanlah dengan cara-cara kekerasan seperti halnya kalangan preman dalam upaya penagihan.

Mereka, kata dia, hanya mencoba untuk menghubungi peminjam buku sebelumnya dan memohon untuk dikembalikan secepatnya.

"Bila perlu, didatangi ke rumah peminjam tersebut dengan cara yang baik-baik. Diberikan pengarahan, bahwa selain mereka, masih banyak pelajar, mahasiswa dan masyarakat yang ingin membaca buku tersebut," kata Riski.(fzr)