SELATPANJANG - Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Edy Afrizal Natar Nasution (purn) melakukan kunjungan kerja ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Selatpanjang, pada Selasa (3/13/2019). Kunjungan wagubri ini untuk melihat kondisi hunian Lapas yang saat ini yang sudah over kapasitas.

Wagubri mengaku sangat prihatin dengan kondisi penghuni di Lapas Kelas II B Selatpanjang yang sudah sangat melebihi batas. Dimana kapasitas hanya 83 orang harus diisi Lapas dengan 291 orang narapidana maupun tahanan.

Dalam kunjungannya, wagubri didampingi langsung Kasubsi Yantahlola Lapas Selatpanjang, Afrianco, Kaban Kesbangpol Provinsi Riau, Drs H Chairul Riski, Kabiro Kesra Propinsi Riau, H Masrul Kasmy, Kasubdit Bintibsos Dit Binmas Polda Riau, AKBP Zulkifli Yung, SH. MH, Direktorat ketahanan ekonomi dan Budaya Ditjen Polpum Kemendagri Drs CM Tri Jaladara, Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Taufiq Lukman Nurhidayat SIk, SH, ketua DPRD Kepulauan Meranti, Ardiansyah dan beberapa pejabat lainnya.

Tidak hanya melihat dari luar, wagubri juga melihat langsung ke dalam ruang tahanan yang tersedia. Bahkan Edy terlihat terkejut, saat masuk di satu di antara ruangan yang ada. Dimana ruangan yang dilihat Edy ini diisi sekitar 20 orang narapidana wanita yang kesemuanya tersangkut masalah narkoba.

"Setelah melihatnya, kami prihatin dengan kondisi Lapas pada hari ini. Meskipun hampir semua kondisi Lapas seperti itu," ungkapnya.

Menurutnya, setelah berbincang dengan Kalapas Selatpanjang melalui Kasubsi Yangtahlola, dari sebanyak 291 orang narapidana 87 persen penghuninya merupakan narapidana perkara dari tindak pidana penyalahgunaan Narkoba.

"Bayangkanlah sudah 80 persen lebih penghuni disini adalah mereka yang terjerat narkoba. Ini sudah sangat luar biasa, jangan dianggap main-main main ini sudah sangat darurat. Lihat saja tadi satu ruangan diisi 20 narapidana wanita, semuanya kasus narkoba, mau jadi apa generasi muda kalau seperti ini, kan kasihan," kata Edy Natar Nasution.

Dikatakan Edy, salah satu cara mencegahnya adalah dengan melakukan sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Dalam kesempatan itu, Edy meminta keseriusan semua pihak terkait khususnya masyarakat untuk pro aktif bersama-sama menjadi duta pemberantasan Narkoba dilingkungannya masing-masing.

"Sosialisasi ini salah satu langkah dan upaya kita untuk mencegah, makanya kita libatkan kepolisian, kejaksaan. Mudahan upaya yang kita lakukan menumbuhkan kesadaran kepada mereka yang sudah terlanjur," kata Edy.

Dikatakan mantan Danrem 031 Wirabima ini, maraknya peredaran narkoba di Riau cukup tinggi, tercatat Riau merupakan peringkat 5 terbesar sebagai daerah peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Parahnya bukan saja menjadi konsumen tapi juga sebagai produsen untuk itu perlu dilakukan penanganan yang serius dari semua pihak.

"Di Riau ada tiga pulau besar tempat peredaran gelap Narkoba yakni Rangsang, Bengkalis dan Rupat. Disana ada banyak jalan tikus. Tapi kita dihadapkan dengan kemampuan pengawasan yang terbatas. Angkatan laut begitu juga Polair, makanya peran serta masyarakat seluruhnya sangat diharapkan, tak bisa kita sandarkan hanya kepada aparat keamanan saja," pungkasnya.***