
PEKANBARU, GORIAU.COM - Fenomena Elnino yang menyebabkan berkurangnya intensitas curah hujan, tak hanya berdampak pada meningkatnya titik panas yang menyebabkan potensi Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) di Provinsi Riau dan beberapa daerah lainnya. Ancaman terburuk dari dampak Elnino tersebut adalah bencana kekeringan di dua waduk pembangkit listrik tenaga air.
Dua waduk yang terancam kekeringan ini adalah waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ‎Danau Singkarak dan waduk PLTA Koto Panjang. Akibat dari situasi ini, dimungkinkan akan terjadi pemadaman bergilir di dua provinsi diantaranya Sumatera Barat dan Riau, lantaran stok listrik berkurang akibat turunnya debit air yang digunakan dalam memutar turbin.
 "Untuk antisipasi hal ini, kita sudah berkoordinasi dengan pihak BPPT (Badan Pengkajian Penerapan Tekhonologi) agar melakukan modifikasi cuaca di sana dan mempercepat terjadinya proses hujan di sekitar kawasan waduk. Kita juga dibantu BMKG serta Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru," sebut Manager PLN Sektor Pekanbaru, Charles Leonard Damanik‎, Selasa (1/9/2015).
 ‎Modifikasi untuk mempercepat proses terjadinya hujan tersebut, sambung Charles, akan dilaksanakan 45 hari kedepan (terhitung hari ini,red), dengan pesawat Cassa 212-200, yang terbang dari Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin. "Sore ini kita lakukan penerbangan pertama. Kita koordinasi dengan BMKG untuk mencari koordinat awan berpotensi, dan unit TMC langsung menyemai garam di sana," jawabnya kepada GoRiau.com.
 Masih terkait ini,‎ Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Tekhnologi Modifikasi Cuaca BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi) Riau, F Heru Widodo‎ mengatakan optimis hujan akan terjadi diatas atmosfer di dua waduk tersebut. "Kita optimis karena waduk berada digaris ekuator, jadi peluang awan bisa bagus dan idealnya November ini, sehingga awan potensial tinggi," sebutnya di Lanud Roesmin Nurjadin.
 Informasi yang dirangkum GoRiau.com, untuk sekali terbang modifikasi cuaca itu, PLN merogoh kocek Rp148 juta dalam sehari operasi. Saat ini kedua waduk yang jadi lokasi PLTA tersebut hanya mampu beroperasi 60 persen. Jika tidak cepat diantisipasi dengan modifikasi cuaca, maka dampaknya, Riau dan Sumbar bukan tidak mungkin terjadi pemadaman listrik bergilir‎.
 Semua itu baik Karlahut dan bencana kekeringan, di klaim akibat dampak fenomena Elnino yang sudah berlangsung sejak awal 2015. Fenomena itu diprediksi berlangsung hingga akhir 2015 nanti. Elnino berdampak pada berkurangnya curah hujan tak hanya di Riau, melainkan di beberapa provinsi di Indonesia. (Had)