PASIR PANGARAIAN, GORIAU.COM - Hasil seleksi calon komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rokan Hulu ternyata penuh permanianan dan dinilai telah melakukan penzaliman. Calon komisioner yang harusnya memahami tugas-tugas politik agar Pemilu berjalan lancar justru 'ditunggangi' aksi seleksi yang tidak transparan.

Seperti diungkapkan salah seorang peserta seleksi Ramzi Durin kepada GoRiau.com, Sabtu (25/1/2014). Berikut.penuturannya yang kami muat secara utuh:

Saya ingin menanggapi hasil seleksi KPU Rohul yang telah diumumkan pada 21 Januari 2014 yang tidak meluluskan saya dalam 10 orang yang dinyatakan lulus.

Sampai saat ini saya belum pernah melakukan komplen terhadap hasil itu walaupun saya yakin hasil itu telah menzalimi saya sebagai peserta. Bererapa tanggapan yang ingin saya sampaikan sebagai berikut :

Bahwa saya yakin ini adalah jalan terbaik yang diberikan tuhan kepada saya, orang bisa saja menzalimi saya, namun saya harus meyakini bahwa pasti ada hikmah dibalik itu.

Berdasarkan hasil seleksi yang diumumkan tanggal 15 Januari 2014, saya adalah ranking kedua (Akumulai nilai seleksi tertulis, kesehatan dan psikotes) dari 19 peserta yang dinyatakan lulus.Bahwa saya adalah komisioner aktif yang sangat paham tentang pemilu, bahkan mungkin saya lebih paham dari ketua Pansel Profesor Feliatra yang berlatar belakang ilmu perikanan. Jadi tidak logis rasanya kalau saya tidak diluluskan hanya karena kemampuan. Apalagi ada lulusan SLTA yang diloloskan, adalah sebuah logika gila.

Dari 19 orang itu, saya adalah satu-satunya komisioner lama yang lulus, jadi tidak bijak kalau Pansel tidak mempertimbangkan pengalaman yang saya miliki selama 5 tahun sebagai komisioner untuk menghadapi pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi.Terlihat Timsel tidak bijak bahkan mungkin tidak punya mata bahwa penyelenggara pemilu tidak semudah dibayangkannya, karna tidak ada lagi waktu penyesuaian yang dimiliki komisioner yang baru karena mereka sudah langsung harus bekerja menghadapi pemilu 2014.

Timsel tidak pernah meminta pendapat dua orang komisioner KPU Rohul yang dalam Kepanitiaan Pansel bertindak sebagai Pengarah.

Jika Timsel ini tranparan dan akuntable dan tidak dalam posisi di intervensi, saya yakin Timsel akan dapat secara terbuka mengemukakan alasan logis tentang ketidak lulusan saya.Pada akhirnya saya hanya berharap dan mendoakan semoga Komisoner KPU yang akan datang dapat menjalan tugas secara independen dan sukses mengemban tugas. Jika pemilu di Rohul kacau, maka Profesor Feliatra dan kroni-kroninya harus bertanggung jawab setidaknya secara moral. ***