SURABAYA – Media sosial kembali dihebohkan dengan temuan ladang ganja di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Sebanyak 59 titik penanaman ganja terungkap melalui rekaman drone yang menangkap area ladang tersembunyi di zona rimba.

Kabar ini langsung viral dan menjadi bahan diskusi warganet. Banyak yang mempertanyakan bagaimana ladang ganja bisa tumbuh di kawasan konservasi tanpa terdeteksi sebelumnya. Sejumlah netizen bahkan mengaitkan temuan ini dengan aturan ketat penggunaan drone di kawasan Bromo.

“Jangan-jangan larangan drone di Bromo ada hubungannya sama ini,” tulis seorang pengguna media sosial. “Kalau gak ada yang nekat pakai drone, mungkin gak bakal ketahuan.”

Ladang ganja tersebut ditemukan di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 3 Senduro, Kabupaten Lumajang. Dari total luas kawasan 6.367 hektare, area penanaman ganja yang terdeteksi memiliki luas kurang dari satu hektare, tersebar dalam 59 titik dengan ukuran yang bervariasi antara dua hingga 16 meter persegi.

Persidangan kasus ini telah digelar pekan lalu dengan menghadirkan tiga saksi utama: Yunus Tri Cahyono selaku polisi hutan dan Kepala Resor Senduro, Edwy Yunantu sebagai staf Kantor Balai Besar TNBTS, serta Untung, polisi hutan lainnya.

Dalam keterangannya, saksi menyebutkan bahwa keberadaan ladang ganja ini berdampak buruk bagi ekosistem kawasan. “Tanaman ini bukan bagian dari flora endemik kawasan dan merusak habitat aslinya,” ujar Yunus dalam sidang.

Senada dengan itu, Untung menegaskan bahwa penanaman tumbuhan asing di kawasan konservasi merupakan pelanggaran serius. “Itu wilayah konservasi, tanaman di luar jenis endemik tidak boleh ditanam di sana,” jelasnya.

Selain merusak ekosistem, kehadiran ladang ganja ini juga berdampak pada vegetasi asli seperti pinus dan cemara. Jika tidak segera ditindaklanjuti, pemulihan lingkungan di kawasan tersebut akan menjadi tantangan besar.

Netizen masih ramai mendiskusikan bagaimana ladang ganja bisa berkembang di kawasan konservasi tanpa diketahui selama ini. Dugaan adanya kelalaian hingga spekulasi mengenai keterlibatan oknum tertentu terus bermunculan di media sosial. ***