SELATPANJANG - Abrasi menjadi ancaman nyata dan menakutkan bagi warga pesisir yang tinggal di setiap pulau di Kepulauan Meranti, Riau. Pasalnya, meski telah lama dan terus-terusan terjadi, belum ada penanganan khusus yang bisa menghambat terjadinya abrasi ini.

Di Desa Mekong salah satunya. Desa yang terletak di depan Selat Melaka ini sudah lama terkena dampak abrasi. Tak sedikit tanah-tanah milik warga menjadi lautan dan infrastruktur seperti jembatan rusak parah.

Kondisi itu diperparah dengan rusak serta tidak berfungsinya secara maksimal turap penahan ombak yang dibangun belasan tahun silam. Waktu turap itu dibangun, Kepulauan Meranti masih bagian dari Kabupaten Bengkalis.

Turap yang dibangun di tebing tidak memberikan manfaat dengan maksimal. Apalagi setelah gerusan air memlewati bagian bawah turap. Sehingga ombak yang terjadi dengan leluasa menerjang tebing. Selama air laut pasang, tak sedikit tanah-tanah tebing runtuh ke laut karena terjangan ombak ini.

Untuk di Kepulauan Meranti, abrasi tidak hanya terjadi di Pulau Tebingtinggi saja. Tetapi juga terjadi di Pulau Merbau, Pulau Padang, dan Pulau Rangsang.

Abrasi di Pulau Rangsang sangat mengkhawatirkan. Sebab, Pulau Rangsang ini merupakan pulau yang berbatasan langsung dengan laut lepas, Selat Melaka.

Tak sedikit infrastruktur seperti jalan dan jembatan rusak parah akibat abrasi. Selain itu, tak sedikit pula kelapa milik warga tumbang akibat dampak buruk dari abrasi ini.

Dari bincang-bincang GoRiau dengan Badan pengelolaan perbatasan dulunya (sebelum OPD baru, red), dikatakan bahwa untuk mengatasi abrasi tidak kuat menggunakan dana APBD kabupaten. Diharapkan ada bantuan dari pusat melalui APBN, terlebih Presiden Jokowi telah berjanji akan memberikan perhatian khusus ke pulau terdepan (terluar) di Indonesia. Hanya saja, belum terlihat upaya maksimal dalam mengatasi dampak buruk abrasi ini. *** #Semua Berita Kep Meranti, Klik di Sini