JAKARTA - Di tengah lonjakan utang nasional yang menembus rekor baru dan ratusan personel militer yang cedera, pemerintah Amerika Serikat kini mengalihkan fokus strategi luar negerinya pada kampanye tekanan ekonomi maksimal terhadap Iran. Rencana sanksi besar-besaran ini diumumkan secara terbuka pada Kamis (20/08/2026) dengan target melumpuhkan instrumen ekonomi Teheran.

Berdasarkan data Pentagon, sebanyak 757 anggota militer AS mengalami luka-luka sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Mayoritas personel yang terdampak adalah Angkatan Darat dengan 580 korban, disusul 86 personel Angkatan Laut, 64 personel Angkatan Udara, dan 19 anggota Korps Marinir. Sebagian besar dari mereka mengalami cedera otak traumatis saat menjalankan "Operasi Epic Fury", yang pada akhir Juli direklasifikasi menjadi "Operasi Luar Negeri".

Sejalan dengan kondisi di lapangan, beban fiskal Washington juga semakin berat. Utang Amerika Serikat tercatat melampaui 40 triliun dolar AS pada Rabu (19/08/2026). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dari 39 triliun dolar AS pada Maret dan 38 triliun dolar AS pada Oktober tahun sebelumnya, didorong oleh biaya pertahanan serta pembayaran bunga defisit.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyatakan bahwa penguatan sanksi ekonomi dirancang untuk mengurangi kebutuhan operasi militer skala besar yang menguras anggaran dan memakan korban personel. Ia memberikan ultimatum kepada seluruh sekutu dan Cina untuk turut serta dalam isolasi ekonomi ini.

"Ini akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia. Dan kami akan mendatangi mereka dan mengatakan: kalian harus memilih, bersama kami atau melawan kami," tegasnya.

Terkait tudingan dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi yang menilai sanksi ini hanyalah taktik pengalihan isu dari masalah utang dan inflasi, Bessent merespons bahwa target utama Washington adalah melemahkan pengaruh geopolitik Iran dan proxy-nya.

"Kami akan menghancurkan rezim ini," pungkasnya.

Pemerintah AS dijadwalkan akan menggelar paparan resmi mengenai rincian kampanye tekanan ekonomi ini pada Senin (24/08/2026), sembari terus mendesak Beijing yang merupakan pembeli utama minyak Iran untuk merespons seruan isolasi tersebut.***