PEKANBARU –Harga ayam potong yang menembus Rp47 ribu per kilogram mulai membuat warga Pekanbaru mengadu kepada wakil rakyat. Keluhan itu disampaikan masyarakat di kawasan Tenayan Raya kepada Anggota Komisi II DPRD Pekanbaru, Arwinda Gusmalina, di tengah kenaikan harga ayam di sejumlah pasar kota tersebut.

Harga ayam di Pasar Cik Puan pada Jumat, 21 Agustus 2026, berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram. Sementara di sejumlah kawasan, termasuk Tenayan Raya, warga melaporkan harga yang lebih tinggi. Kenaikan ini membuat pengeluaran rumah tangga bertambah untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

“Banyak masyarakat yang mengadu kepada kami. Di sekitar Tenayan Raya, ada yang menyampaikan harga ayam sudah sampai Rp47 ribu per kilogram. Ini tentu menjadi perhatian karena ayam merupakan kebutuhan masyarakat sehari-hari,” kata Arwinda, Jumat, 21 Agustus 2026.

Menurut Arwinda, pemerintah perlu segera memastikan penyebab perbedaan harga tersebut. Pemeriksaan tidak cukup dilakukan di tingkat pedagang, tetapi harus menyentuh rantai distribusi dari pemasok hingga pasar agar tidak ada mata rantai yang membuat harga semakin tinggi.

Ia mengatakan kenaikan harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram kini menjadi sekitar Rp40 ribu bahkan Rp47 ribu perlu mendapat perhatian serius. Selisih harga tersebut dinilai cukup besar bagi keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan pendapatan terbatas.

“Kalau kenaikannya sampai Rp47 ribu, tentu masyarakat sangat merasakan. Bagi keluarga yang penghasilannya pas-pasan, kenaikan belasan ribu rupiah per kilogram itu bukan angka yang kecil,” ujarnya.

Arwinda meminta Pemerintah Kota Pekanbaru melalui dinas terkait memperkuat pemantauan harga dan pasokan ayam di pasar-pasar tradisional. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan pasokan tetap mencukupi agar kenaikan harga tidak semakin meluas.

Menurut dia, persoalan harga pangan tidak bisa hanya diselesaikan dengan meminta pedagang menurunkan harga. Pemerintah harus memastikan distribusi berjalan lancar dan pasokan tersedia dengan harga yang wajar sejak dari tingkat pemasok.

“Jangan hanya pedagang yang disoroti. Kita harus melihat bagaimana barang itu sampai ke pedagang. Kalau harga dari hulunya sudah tinggi, pedagang juga akan kesulitan menjual murah,” kata Arwinda.

Ia mendorong pemerintah melakukan koordinasi dengan distributor, peternak dan pemasok ayam untuk mengetahui kondisi pasokan di Pekanbaru. Jika pasokan dari daerah sekitar tidak mencukupi, pemerintah dapat mencari alternatif pasokan dari daerah lain untuk menjaga kestabilan harga.

Arwinda juga meminta pengawasan dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika harga sudah melonjak. Menurut dia, pemerintah harus memiliki data mengenai perkembangan harga dan pasokan sehingga gejolak dapat diantisipasi sebelum membebani masyarakat.

“Jangan menunggu harga sudah tinggi baru bergerak. Pemerintah harus cepat membaca kondisi di lapangan dan mengambil langkah sebelum masyarakat semakin terbebani,” ujarnya.

Ia mengatakan DPRD Pekanbaru akan terus memperhatikan perkembangan harga kebutuhan pokok, termasuk ayam potong. Keluhan masyarakat, kata dia, harus menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menjaga daya beli warga.

“Kita ingin masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang wajar. Pedagang juga harus tetap bisa mendapatkan keuntungan yang layak. Jadi yang harus dijaga adalah keseimbangan antara kepentingan pedagang dan kemampuan masyarakat,” kata Arwinda.

Menurut Arwinda, kenaikan harga ayam tidak hanya berdampak kepada rumah tangga. Pelaku usaha kecil seperti warung makan dan pedagang makanan juga ikut terdampak karena ayam merupakan salah satu bahan baku utama.

Karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga pasokan dan menekan disparitas harga antarwilayah di Pekanbaru. Dengan pasokan yang cukup dan distribusi yang lancar, harga di tingkat konsumen diharapkan dapat kembali lebih terjangkau.

“Yang paling penting jangan sampai masyarakat terus menjadi pihak yang menanggung beban. Pemerintah harus hadir memastikan kebutuhan pokok tersedia dan harganya masih bisa dijangkau masyarakat,” ujar Arwinda. ***