DUMAI - Menyoroti perilaku tenaga kerja asing (tka) asal Cina yang dipekerjakan oleh PT Paramita Bagun Sarana (PBS), yang seenaknya keluar mess hanya bercelana dalam. Membuat beberapa pihak geram, pasalnya apa yang mereka laku tidak sesuai dengan adat istiadat di Provinsi Riau, khususnya di Dumai.

Hal itu disampaikan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kota Dumai, Azwar Djas saat ditemui GoRiau.com, Rabu siang (18/5/2016) dirumahnya. Ia mengatakan, perilaku yang dibuat pekerja asing asal Cina tersebut, telah melecehkan adat melayu dan agama islam.

"Pimpinan Manajemen PT PBS harus bisa mengklarifikasi apa yang telah dilakukan pekerja asing itu. Perusahaan harus memberitahukan bagaimana adat istiadat yang ada di Dumai. Karena kebiasaan di negara mereka tidak bisa dipakai disini," ulas Azwar.

Dilanjutkannya, Pemerintah Daerah (Pemda) melalui instansi terkait harus melakukan pengawasan, terhadap perilaku pekerja asing di PT PBS. Pemda harus peka terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di wilayahnya, jangan diam saja.

"Pemda harus konsisten, kalau terbukti bisa ditindaklanjuti. Tidak hanya berdiam diri saja. Kalau perlu lakukan sidak bersama dengan ormas yang ada di Dumai. Karena bagaimana pun juga, marwah Kota Dumai," tutup Azwar menjelaskan.

Informasi yang dirangkum GoRiau.com, PT Paramita Bangun Sarana merupakan kontraktor utama Sinar Mas Group. Saat ini PT PBS memperkerjakan tenaga asing untuk membangun pabrik PT Energi Mas Sejahtera (ESM) di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Riau.***