PEKANBARU – Keberadaan sapi Kuantan sebagai sapi lokal Indonesia asal Provinsi Riau mendesak untuk segera diselamatkan karena terancam punah akibat populasinya yang terus menurun dari waktu ke waktu.

Keprihatinan ini dikemukakan akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau Prof Dr Yendraliza, SPt, MP dalam perbincangannya dengan GoRiau, Rabu (30/7/2025).

Menurut Yendraliza, sapi Kuantan adalah sapi kebanggaan masyarakat Riau. Sapi Kuantan merupakan sapi lokal Indonesia asal Riau yang terdaftar menjadi Plasma Nutfah Nasional dengan nomor register 1052/Kpts/S.R.120/10/2014 oleh Kementerian Pertanian.

"Meski tampilan fisiknya lebih kecil dari sapi Bali, namun sapi Kuantan ini lebih memiliki daya tahan terhadap wabah penyakit dibanding sapi Bali. Saat sapi Bali terkena wabah penyakit, sapi Kuantan dapat melalui wabah itu dengan baik. Sayangnya populasi sapi Kuantan ini saat ini semakin menurun," ungkap guru besar Ilmu Peternakan dan Reproduksi Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau ini.

Semakin menurunnya populasi sapi Kuantan ini, kata Yendraliza, diketahui dari hasil penelitian yang dilakukannya bersama tim tahun 2020 lalu. Saat itu, timnya mengestimasi bahwa populasi sapi Kuantan akan minus tahun 2023 sampai saat ini. Sementara hasil penelitiannya bersama Guswanto tahun 2021 lalu, diketahui jumlah pejantan sapi Kuantan di lapangan sudah tidak ada lagi.

"Akibatnya apa, peternak mengawinkan sapi Kuantan-nya dengan pejantan yang ada atau di-Inseminasi Buatan (IB) dengan semen beku sapi Bali. Tindakan ini tentu memberikan efek yang tidak baik terhadap kemurnian darah sapi Kuantan jika dilakukan terus-menerus. Jika begini terus, saya memprediksi sapi Kuantan hanya akan tinggal kenangan," tutur Yendraliza.

Menyikapi situasi tersebut, menurut Yendraliza, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Provinsi Riau telah mencoba melakukan penyelamatan terhadap populasi sapi Kuantan dengan cara menempatkan sapi Kuantan milik masyarakat di Balai Pengembangan Ternak dan Pakan (BPTP) Riau di Pasir Putih, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

"Penangkaran sapi Kuantan ini berguna untuk memurnikan gen sapi Kuantan sehingga turunan sapi-sapi Kuantan ke depannya tidak bercampur dengan darah ternak lain seperti sapi Bali dan Simental," papar Yendraliza.

Sementara untuk mengatasi kelangkaan pejantan sapi Kuantan di lapangan atau di daerah, Disnak Keswan Provinsi Riau melalui Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Provinsi Riau di Daerah juga sudah melakukan penampungan semen sapi Kuantan.

"Saat ini semen sapi Kuantan sudah dibekukan dalam straw dan sudah disebarkan ke masyarakat di daerah Kuansing," ungkap Yendraliza.

UIN Suska Riau sebagai perguruan tinggi negeri yang memiliki Fakultas Peternakan di Provinsi Riau, kata Yendraliza, dalam konteks ini mengambil peran dengan melakukan pendampingan di lapangan dalam bentuk penelitian dan pengabdian masyarakat.

"Penangkaran sapi Kuantan di UPT Pengembangan Ternak dan Pakan perlu perhatian dari semua pihak, agar pemurnian sapi Kuantan ini dapat membuah hasil yang optimal. Upaya penampungan semen sapi Kuantan juga perlu mendapat perhatian agar menghasilkan semen beku yang berkualitas. Keterlibatan akademisi sebagai pendampingan keberlangsungan sapi Kuantan ini sangat dibutuhkan. Harapan kita nanti ada Perda Sapi Kuantan sebagai Plasma Nutfah asal Riau yang mesti dilestarikan," kata Yendraliza. ***