
PEKANBARU – Gubernur Riau, Abdul Wahid, mendampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, serta tokoh nasional Hashim Djojohadikusumo dalam kunjungan kerja ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) Arsari, Rabu (30/7/2025).
Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung program konservasi dan rehabilitasi satwa liar yang dikelola oleh YAD Arsari sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Provinsi Riau.

Dalam sambutannya, Gubernur Abdul Wahid menyampaikan apresiasi kepada Kementerian LHK dan YAD Arsari atas kontribusi nyata mereka dalam melindungi satwa dilindungi dan habitatnya. Ia menegaskan, keberadaan pusat penyelamatan satwa di Riau menjadi langkah penting dalam mempertahankan kekayaan biodiversitas daerah.
“Kami di Pemerintah Provinsi Riau mendukung penuh upaya kolaboratif ini. Pelestarian satwa dan habitatnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan dunia usaha,” ujar Gubri Wahid.

Sementara itu, Menteri LHK, Raja Juli Antoni, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat dalam melaksanakan program konservasi. Ia menyebut kolaborasi seperti yang dilakukan bersama YAD Arsari merupakan contoh nyata bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap program konservasi berjalan efektif dan memberi dampak nyata terhadap pelestarian lingkungan,” ungkap Raja Juli Antoni.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga meninjau langsung area rehabilitasi satwa, termasuk fasilitas perawatan dan lokasi pelepasliaran yang menjadi bagian dari program reintroduksi ke habitat alami. Sejumlah satwa dilindungi seperti orangutan, elang, dan kucing hutan menjadi fokus utama upaya pemulihan.
Hashim Djojohadikusumo selaku pendiri Yayasan Arsari Djojohadikusumo turut menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen memperluas kerjasama dengan pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat kegiatan konservasi di Riau dan Sumatra pada umumnya.

“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. Pelestarian satwa bukan hanya tentang menjaga hewan-hewan langka, tapi juga menjaga keseimbangan alam dan masa depan generasi berikutnya,” ujarnya.
Kegiatan diakhiri dengan diskusi bersama antara Pemerintah Provinsi Riau, Kementerian LHK, dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo terkait peluang pengembangan kerja sama berkelanjutan dalam bidang konservasi lingkungan dan edukasi masyarakat. ***






