PEKANBARU - Taman Nasional Bukit Tigapuluh bagi sebagian wisatawan dianggap sebagai 'surga' yang tersembunyi di Provinsi Riau. Anggapan tersebut bukan tanpa alasan, apalagi di taman nasional ini kondisi hutannya memang tergolong masih 'perawan', ditambah lagi dengan aneka satwa seperti harimau, beruang, rusa, aneka jenis primata, ikan-ikan di sungai dan lutung berbulu keemasan yang jarang dijumpai ditempat lain.

Tidak hanya itu saja, daerah ini juga sangat terkenal dengan hasil hutan seperti petai, salak serta buah durian yang sangat melimpah. Disini juga tersedia objek wisata kantong semar dan air terjun yang merupakan ikon wisata paling menarik bagi para wisatawan.

Jika anda memiliki hobi jalan-jalan sambil berpetualang sembari menikmati keindahan alam, tidaklah lengkap jika belum sempat berkunjung ke taman nasional yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Provinsi Riau ini.

Apalagi saat ini di Taman Nasional Tigapuluh juga sedang dilaksanakan iven bertajuk 'Festival Batang Gangsal" yang berlangsung selama empat hari, pada tanggal18-22 Nopember 2015.

"Festival Batang Gangsal" merupakan ivent tahunan yang bertujuan untuk terus melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan Suku Talang Mamak dan pastinya adalah mempromosikan potensi wisata Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Berbagai atraksi budaya serta perlombaan seperti pacu sampan, silat tradisional, lempar galah, festival musik gambus, dan sepeda gunung, juga dihadirkan untuk memanjakan para wisatawan yang hadir di acara Festival Batang Gangsal yang dipusatkan di Desa Rantau Langsat , Kecamatan Batang Gangsal, Indragiri Hulu Riau.

Akses dan Akomodasi Menuju Lokasi Taman Nasional Batang Gangsal Inhu.


https://www.goriau.com/assets/imgbank/21112015/balihofest-3352.jpg

Bagi anda yang tertarik untuk melihat keunikan budaya Suku Talang Mamak, menikmati festival ini tentunya bisa menjadi pilihan yang berbeda dengan tempat wisata lain yang ada di Indonesia.

Untuk akses, menuju lokasi festival bisa ditempuh melalui jalur darat. Bila dari Pekanbaru, memakan waktu dan jarak tempuh kurang lebih enam jam perjalanan untuk menuju lokasi tersebut. Dengan estimasi waktu empat jam menuju pusat pemerintahan Indragiri Hulu, yakni Pematang Reba, dilanjutkan dua jam perjalanan menuju Desa Rantau Langsat.

Anda juga bisa menikmati wisata kuliner khususnya buah durian yang dijual dengan harga murah meriah disepanjang jalan menuju lokasi tersebut. Jika anda menggunakan kendaraan pribadi tidak usah khwatir, jalan menuju lokasi sudah beraspal dan hanya sekitar delapan kilo meter, yang masih tanah berbatu. Tapi cukup nyaman dilewati sampai ke lokasi festival.

Untuk sarana akomodasi atau penginapan, di lokasi ini juga terdapat camping ground. Mendirikan tenda dan camping bersama teman-teman pastinya sangat mengasikkan. Apalagi lokasi camping ground ini sangat strategis karena dari sini banyak objek wisata yang bisa dinikmati seperti memotret primata.

Dan jika anda berniat melihat langsung obejk wisata Air terjun, lokasi tersebut berjarak sekitar 4,5 meter atau bisa ditempuh sekitar tiga jam dari Desa Rantau Langsat. Dikarenakan medan hutan yang terjal maka anda perlu waktu yang lebih lama dari perjalanan di medan normal.

Dalam perjalanan menuju air terjun inilah anda akan melihat banyaknya warga yang membawa petai dari tengah hutan sekitar. Disini warga memang diperbolehkan mengambil petai dari hutan dengan syarat tidak mengambil berlebihan, karena untuk berbagi dengan warga yang lain. Kearifan masyarakat lokal di sekitar TNBT masih benar-benat terjaga.

Air terjun tersebut tingginya sekitar 31 mete dengan cucuran air yang sangat jernih. Saat anda masuk ke dalam aliran sungai maka ikan-ikan akan datang mengerubuti kaki, dan menandakan bahwa manusia jarang menjamah tempat ini.

Dan dilokasi inilah wisatawan juga bisa mengabadikan aksi para lutung berbulu kuning emas dengan bidikan camera. Selain melihat primata, wisatawan juga bisa melakukan perjalanan susur Sungai Gangsal menuju desa-desa di daerah hulu. Di desa-desa tersebut kebanyakan dihuni oleh suku Talang Mamak. Jika waktunya pas maka wisatawan juga dapat menimkati kegiatan menunggu durian jatuh di hutan, atraksi menombak ikan atau mengambil madu.


https://www.goriau.com/assets/imgbank/21112015/balihofest-3351.jpg 

Untuk menarik sejumlah wisatawan ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh inilah Kabupaten Indragiri Hulu mengadakan iven Festival Batang Gangsal setiap satu tahun sekali tepatnya dibulan Nopember.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Riau Fahmizal Usman, Kegiatan ini dipusatkan di Desa Rantau Langsat, yang berada persis dipinggir kawasan TNBT. Bertujuan sebagai promosi pariwisata Inhu dan Riau pada umumnya.

"Kondisi alam yang sangat luar biasa indah, dengan kawasan perbukitan dan banyaknya obejek wisata di Taman Nasional ini, kita terus berupaya memperkenalkan ke masyarakat luas khususnya wisatawan baik itu lokal maupun luar negeri dengan cara salah satunya Festival Batang Gangsal ini," ungkap Fahmi kepada GoRiau.com, Sabtu (21/11/2015).

Masih menurut fahmi, dalam iven tersebut bagi masyarakat lokal khususnya suku Talang Mamamk, akan digelar berbagai perlombaan seperti lempar tombak ala Talang Mamak, gambus trdisional, olah raga alam dan berbagai macam atraksi dan lomba kreasi kerajinan untuk souvenir, seperti anyaman.

Sementara, untuk masyarakat atau wisatawan yang datang dari luar daerah, bisa menikmati beberapa kegiatan di festival ini. Salah satunya, mencoba kegiatan mountain bike atau sepeda gunung.

"Jadi, kita cross country, mutar-mutar melewati hutan, melewati kampung yang ada di sini," ungkapnya

Kegiatan lainnya adalah Lomba Memancing yang digelar di Sungai Batang Gangsal. Lomba fotografi dan banyak lagi acara-acara yang disuguhkan dalam memeriahkan iven tersebut. Khusus bagi tamu yang menginap bisa memilih untuk keliling dusun atau menyusuri sungai atau kegiatan apapun yang ingin dilakukan di lokasi ini.

"Festival ini merupakan agenda tahunan dan iven yang kedua kalinya kita selenggarakan, dan juga bagian dari upaya membina masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di sana. Karena mereka punya potensi budaya, seni dan wisata alam, maka bersama teman-teman di daerah kita garap ini sebagai objek wisata," pungkasnya. ***