
BAGANSIAPIAPI, GORIAU.COM - Wacana Pemprov yang menginginkan kampus IPDN dipindahkan ke Pekanbaru, diprotes oleh anggota DPRD Rokan Hilir, H. Bachid Madjid. Menurutnya masalah ini akan dibicarakan di kalangan DPRD karena tidak sedikit anggaran APBD Rokan Hilir tercurah guna membangun sarana dan prasarana kampus IPDN.
''Uang dah habis banyak. Bukan hanya fisik bangunan yang kita bangun, namun masalah lahan IPDN juga sudah kita selesaikan. Jadi tidak ada alasan untuk pemprov mengambil alih IPDN,'' kata H.Bachid Madjid.
Ketua DPC PPP ini menegaskan, apa yang telah Pemkab Rohil lakukan selama ini guna kesinambungan kampus IPDN, janganlah lagi diutak-atik. Lebih bagus Pemprov mencari ide baru apa yang bisa mereka lakukan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Toh, Rokan Hilir juga masih berada di Provinsi Riau.
Jika mengeluh masalah listrik dan telekomunikasi yang minim, tentunya Pemkab akan mencari solusinya. Jika menganggap Pemkab Rohil tidak siap, itu bukan alasan karena IPDN Sumbar juga bukannya berada dipusat kota. ''Pemprov seharusnya melihat hampir tiap tahun APBD Rohil dianggarkan untuk melengkapi fasilitas IPDN,'' cetusnya.
Ditambahkan H. Bachid, penerimaan praja IPDN Rohil selama ini bersifat terbuka. Tidak ada diskriminasi jumlah kuota antara satu kabupaten dengan kabupaten lain. Selain itu, dukungan pengusaha juga sangat bagus dengan dibangunnya akomodasi seperti hotel dan dilengkapi KCP BRI guna memudahkan transaksi uang kartal bagi praja disana.
Sebelumnya Pemprov mendukung wacana dipindahkannya kampus IPDN dari Rohil ke Pekanbaru. Asalkan, proses pemindahan itu mendapat restu Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Sekdaprov Riau, H Zaini Ismail, menilai, Pekanbaru sangat cocok sebagai lokasi kampus IPDN. ''Kita sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah, prinsipnya setuju (pemindahan, red). Tetapi, sepanjang ada izin dari Kemendagri," katanya.
Sementara itu, Direktur IPDN Kampus Rohil, Rizka Utama dan seluruh civitas akademi, berkeinginan memindahkan kampus ke Pekanbaru. Alasannya, kampus yang ada saat ini tidak refresentatif.
Ini disebabkan aksessibilitas yang buruk. Seperti kondisi listrik dan telekomunikasi yang minim. Hingga sulitnya pihak kampus menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi lainnya yang ada di Pekanbaru. Selain itu, para dosen dan staf kampus juga kesulitan menyekolahkan anak-anak mereka di tingkat SD dan SMP. Pasalnya, jumlah sekolah di Rohil masih sangat minim. (amr)