
SELATPANJANG - Beberapa putra putri Kepulauan Meranti, Kamis (22/12/2016) siang mendatangi Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jalan Dorak Selatpanjang, Riau. Kedatangan mereka ini hendak menyampaikan uneg-uneg terkait kesempatan kerja di Red 9 Hotel Selatpanjang.
Pantauan GoRiau, ada sekitar 9 orang putra putri Kepulauan Meranti datang ke rumah rakyat itu. Mereka langsung bertemu (hearing, red) dengan Ketua Komisi A E Miratna SH, Ketua Komisi B Dedi Putra SHi, Sekretars Komisi B Asmawi, dan Anggota Komisi B Taufiek.
Selama berlangsungnya hearing, terungkap bahwa mereka pernah mengikuti semacam training untuk kesempatan bekerja di Red 9 Hotel Selatpanjang. Dari sekitar 40 orang yang ikut itu, sebagiannya diterima bekerja. Sementara sebagiannya tidak ada kejelasan apakah bisa bergabung dengan Red 9 atau tidak. Ini lah yang sempat dibahas dengan wakil rakyat.
Menurut beberapa anak-anak Meranti itu, mereka tidak seperti diberi training, tapi sudah semacam diajak bekerja. Itu terasa ketika disuruh menyelesaikan berbagai tugas di hotel. "Hanya sekali ada spanduk training dipajang. Selama mengikutinya, tidak sesuai penempatan. Ada yang semula melamar di front office tapi harus membersihkan (yang kotor-kotor, red)," kata mereka di hadapan wakil rakyat.
Terkait keluhan ini, Dedi Putra didampingi Asmawi mengatakan akan memanggil Dinas Tenaga Kerja untuk mempertanyakan masalah rekrutmen pekerja. Dewan juga akan memanggil beberapa pihak yang bersangkutan untuk mencari penyelesaian atas keluhan putra putri Meranti tersebut.
"Nanti kita juga mau check pekerja itu, sudah sesuai dengan Perda belum. Di Perda sudah diaturkan, setiap usaha di sini 75 persen tenaga kerja harus dari Kepulauan Meranti," kata Dedi Putra.
Dedi juga berharap tidak ada intimidasi dari pihak manapun terhadap anak-anak Meranti yang menyampaikan keluhan ke dewan. Wakil rakyat tak menginginkan ada usaha di Kota Sagu yang hanya menguntungkan pihak perusahaan saja.
"Jangan sampai ada ancaman-ancaman. Kita tidak ingin usaha di Meranti hanya mengambil keuntungan sepihak. Di sisi lain, juga harus menguntungkan masyarakat," harap Dedi.
"Kita juga minta tenaga yang sudah ditraining, terdata betul-betul dan laporkan ke Disnaker. Jadi, kalau ada kekosongan, tinggal diisikan saja," pesan Asmawi.
Menanggapi hal ini, Ayan selaku owner Red 9 Hotel Selatpanjang mengaku tidak begitu mengetahui. Sebab, perekrutan dulunya merupakan kebijakan salah seorang yang saat ini tak lagi bekerja di Red 9 Hotel. Namun, dijelaskan Ayan lagi, selaku hotel yang baru beroperasi, mereka tak bisa merekrut semua tenaga kerja sesuai yang mendapat pelatian ini.
"Kita rekrut sesuai kebutuhan hotel," ujar Ayan.
Guna menjawab permasalahan rekrutmen itu, Ayan memanggil pihak pemberi pelatihan kepada putra putri Meranti.
Hadir waktu itu, pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan Pekanbaru Hospitality Institute, Eligusriani SSos. Kepada GoRiau.com, Eli menjelaskan bawa yang diikuti putra putri Meranti itu bukanlah training, tetapi pelatihan.
Eli juga mengaku, peserta sudah diberi penjelasan bahwa mengikuti pelatihan itu tidak ada jaminan langsung bisa bekerja. Pelatihan tidak dibayar dan tidak membayar Lalu, mendengar penjelasan tersebut, dari sekitar 50-an peserta, ada yang mundur dan ada yang melanjutkan mengikuti pelatihan.
"Sudah disampaikan, pelatihan ini tidak membayar dan tidak dibayar. Peserta hanya akan dapat pengetahuan, ilmu, dan sertifikat," ujar Eli.
Kata Eli lagi, mereka hanya melatih, masalah berapa yang dibutuhkan merupakan kebijakan pihak hotel.
Waktu itu anak-anak Kepulauan Meranti ini mendapat materi pelatihan tentang Psikologi Pelayanan, Front Office, Housekeeping, Tata Hidang, dan Magang Industri (Hotel). Selama pelatihan mulai 30 Oktober sampai 23 November 2016, peserta mendapatkan materi lebih kurang 70 jam dan 130 jam praktek.
Ayan mengaku telah menghubungi para peserta pelatihan, untuk diberikan sertifikat sebagaimana perjanjian awal. Namun, ada beberapa peserta pelatihan belum mengambil. "Padahal sertifikat sangat dibutuhkan, karena di sini sudah banyak hotel baru dibuka. Kan mereka sudah ada modal saat melamar kerja di sana," ujar Ayan lagi.
Ayan juga memberi sinyal akan menarik beberapa peserta pelatihan yang tidak bekerja untuk membantu pihak hotel ketika pengunjung ramai, seperti saat Imlek nanti, namun sifatnya tidak mengikat dan akan dibayar perhari.
"Mereka yang bekerja di sini, kita training dulu selama 3 bulan. Kalau kinerjanya bagus kita kontrakkan, kalau tidak bagus ya tidak dilanjutkan (kerjanya, red)," jelasnya.
Untuk pekerja, dikabarkan ada sekitar 27 orang. Pihak hotel memastikan semuanya anak-anak asli Kepulauan Meranti. *** #Semua Berita Kep Meranti, Klik di Sini