
SELATPANJANG - Satu unit speedboat yang digunakan sebagai puskesmas keliling (Pusling) dari Kementerian Kesehatan untuk Kepulauan Meranti, Riau, tidak lagi digunakan. Alhasil, speedboat berwarna putih kuning pengadaan tahun 2011 itu tidak berfungsi dan sudah rusak parah.
Pantauan GoRiau, kondisi Speedboat Pusling TA 2011 dari Ditjen Bina Upaya Kesehaan Kementerian Kesehatan RI itu terparkir rapih di perairan dekat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Meranti. Kondisinya sudah tidak berfungsi dan rusak parah.
Dimana, kondisi body speedboat sudah berlumut, terpal biru penutup rumah speedboat itu sudah robek. Parahnya lagi, di dalam bot sudah ditumbuhi rerumputan laut bernama piai. Ini akibat dari tidak adanya perawatan.
Menanggapi hal ini, Kadiskes Meranti Suandi melalui Kabid Pelayanan Kesehatan (Yankes) Ade Suhartian SH MM mengaku Pusling itu dihibahkan ke Meranti langsung dari Kementerian Kesehatan RI. "Kita dapat kiriman dari pusat, boat itu ditunda pakai kapal dari Pekanbaru. Dari pusat ke Pekanbaru kabarnya dibawa menggunakan kendaraan darat. Itu pengadaan dan kita terima tahun 2011 lalu. Suratnya menyusul ke kita," ujar Ade Suhartian yang mengaku waktu tahun 2011 dia belum menjadi Kabid Yankes.
Setelah diserahkan, mereka baru membuat hibah sementara tahun 2012 yang dipergunakan untuk Puskesmas Bandul, wilayah Pulau Padang.
Waktu itu, kata Ade, speedboat Pusling ini sangat sulit dihidupkan. Speed tersebut menggunakan mesin, dalam bermerk Mercuri. "Kebiasaan kita di sini kan pakai mesin tempel. Ini menggunakan mesin dalam merk mercuri," ujarnya.
Mesin ini mudah rusak. Dalam kondisi rusak, ujar Ade, mereka coba memperbaiki dengan mendatangkan teknisi khusus, kemudian mesin kembali hidup. "Tak hanya kita, banyak teknisi di sini tidak mengerti dengan mesin mercuri ini," kata Ade Suhartian lagi.
Lalu, setelah hidup, Pusling ini sempat dioperasi kan untuk dibawa ke Puskesmas Bandul Pulau Padang tahun 2013 lalu. Rupanya, saat membawa pasien (waktu itu ingin berobat ke Bengkalis, red) speedboat ini tidak bisa digunakan.
Ukurannya yang sangat kecil membuat keluarga pasien enggan menggunakan Pusling karena takut tenggelam. "Mereka takut, ketika masuk beberapa orang, sudah oleng. Sementara laut kita berombak," tambah Ade.
Akhirnya, masyarakat dan beberapa tokoh di Pulau Padang kurang setuju sama Pusling ini. Pusling ini dinilai tidak cocok digunakan di perairan Meranti, mereka lebih senang menggunakan speedboat lain.
Oleh karena tak juga digunakan di Puskesmas Bandul, akhirnya Speedboat itu diserahkan lagi ke Diskes Meranti. Waktu itu, mesin kembali rusak, mereka sempat mendatangkan teknisi khusus dari Jakarta, orang pabrikan warga Jerman bernama Mr Wok.
"Setelah diperbaiki orang Jerman itu, mesin bisa hidup, tapi kurang sempurna, dan pada akhirnya mesin itu rusak dan sampai pada kondisi terakhir," ujar Ade pula.
Atas kondisi Pusling ini, Diskes Meranti sudah melaporkan ke Kemenkes RI melalui Diskes Riau. Namun, oleh Diskes Riau, Diskes Meranti diminta langsung melaporkan ke Kemenkes RI, pasalnya, menurut Ade, saat hibah tahun 2011 lalu, Diskes Riau tidak mengetahui.
"Itu belum bisa dimasukkan ke dalam aset kita. Karena sampai saat ini kita belum menerima hibah (Pusling ini, red) dari Kemenkes," bebernya. ***