DURI - Tren penurunan harga minyak sudah terjadi sejak pertengahan 2014. Dampak anjloknya harga minyak dunia hingga menyentuh level US$ 20-an per barel pada awal tahun ini, telah memukul perusahaan minyak dan gas bumi (migas) di seluruh dunia.

General Manager PGPA Chevron, Sukamto Thamrin kepada GoRiau.com mengatakan dengan kondisi saat ini, Chevron dituntut melakukan upaya untuk mempertahankan keberadaannya di Indonesia, mulai dari mengerem ekspansi bisnis, efisiensi operasional hingga pengurangan jumlah karyawan seiring kegiatan operasi yang menyusut.

"Untuk gambaran saja, tidak hanya pada sektor security pengurangan karyawan ini terjadi, namun pada sektor lain termasuk kepada karyawan Chevron sendiri. Chevron juga menjalankan program efisiensi terhadap tenaga kerja kontraktor dan efisiensi kegiatan jasa penunjang bisnisnya di Indonesia," kata Sukamto, Kamis (7/4/2016).

Bahkan sebelumnya, Chevron juga sudah melakukan sejumlah efisiensi berupa pengurangan kegiatan dan fasilitas para karyawan. Antara lain, menutup fasilitas kesehatan seperti rumahsakit dan klinik, menghilangkan bantuan pendidikan dan sewa rumah bagi karyawannya, hingga penghapusan kegiatan family gathering. Selain itu, mengurangi penggunaan tenaga kerja lepas dan memperketat kriteria kenaikan gaji berdasarkan prestasi (merit increase). 

"Hal-hal inilah pertimbangan Chevron dalam melakukan beberapa upaya. Apa yang disampaikan Perdamaian, tenaga kerja security ini kami terima dan kami bahas bersama dengan pemerintahan setempat," imbuhnya lagi.

Berdasarkan informasi yang diperoleh GoRiau.com, manajemen Chevron di Indonesia memang tengah mempersiapkan program efisiensi usaha akibat dampak anjloknya harga minyak dunia. Program itu meliputi pensiun dini dengan skema golden shake hand terhadap 25 persen dari total karyawannya. Berdasarkan laman situs Chevron, perusahaan migas asal Amerika Serikat tersebut memiliki sekitar 6.300 karyawan dan 30 ribu karyawan mitra kerja di Indonesia.

Chevron termasuk salah satu dari tujuh perusahaan migas terbesar di dunia (seven sister company). Perusahaan ini sudah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1924. Wilayah kerja Chevron di Indonesia berada di Kalimantan dan Sumatera. Di Sumatera, Chevron mengoperasikan dua lapangan utama, yakni Duri dan Minas.

Selain itu, Chevron mengoperasikan Pelabuhan Dumai, yang merupakan terminal pengangkutan minyak terakhir. Adapun di Kalimantan Timur, Chevron memiliki tiga wilayah kerja utama yakni North Area, South Area dan West Seno.***