PEKANBARU, GORIAU.COM - Jika Gubernur Riau terdahulu M Rusli Zainal dikenal dengan gaya kepemimpinan penuh pertimbangan, berbeda dengan Annas Maamun, gubernur yang selalu cepat mengambil keputusan.

Bahkan karena sikapnya itu, dia menjadi orang yang paling -- antara ditakuti dan disegani -- karena setiap pejabat yang tidak sesuai dengan keinginan dan melenceng dari kesepakatan, bersiap untuk mendapatkan sanksi "meja kosong".Kurang dari seratus hari kepemimpinannya, Annas bahkan kerap disibukkan dengan merombak susunan kedinasan di semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Itu dilakukan untuk mencari komposisi yang pas; "Ibarat sayur, itu harus ada garamnya, merica dan pakai nasi. Kalau tak, ya tak kenyang yang memakan."Sikap lain dari Annas Maamun adalah dia lebih memilih untuk blusukan, memantau desa-desa tertinggal dan bergegas membangunnya. Sementara Rusli Zainal di masa kepemimpinannya lebih mengutamakan infrastruktur ibu kota."Pekanbaru tak perlu lagi jalan layang, sudah terlalu banyak. Sekarang harus dibangun jembatan di pulau-pulau agar di sana juga sama majunya. Jangan Pekanbaru saja," kata Annas.Kini yang sama hanyalah keduanya memiliki penguasaan panggung saat berpidato. Bedanya, jika sang orator Rusli Zainal lebih menjaga kewibawaan dengan stel berbicara yang sangat formal, Annas Maamun lebih pada gaya sederhananya yang khas."Kalau saya gitu orangnya!" kalimat yang selalu disampaikan Gubernur Annas saat berada di atas podium. Dia selalu tersenyum meski tengah dalam situasi serius.Pidato Gubernur Annas Maamun bahkan kerap mengundang gelak tawa bagi hadirin yang hadir dalam suatu acara itu. Semisal ketika peresmian Gedung Graha Pena milik Persatuan Watawan Indonesia (PWI) Riau di Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru beberapa waktu lalu. Katika itu, Annas berpidato tentang berbagai persoalan yang tengah dihadapi pemerintahannya saat ini. Seperti tak kunjung disahkannya Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dianggap menjadi penghambat pembangunan daerah."Saya sudah bangun puskesmas, sekolah, dan fasilitas lainnya. Tapi setelah dicek ke badan pertanahan, ternyata bangunannya berada di kawasan hutan," kata Annas dengan isyarat nada mengeluh."Semuanya masih dalam status hutan. Saya juga pernah kasihan melihat masyarakat di pinggir sungai Siak tinggal di rumah kumuh. Saya perintahkan dinas untuk membangun rumah baru untuk mereka. Ternyata lahan itu juga masih hutan," kata Annas Maamun.Ketika itu, dia berbicara dengan logat khas kampung halaman, Bagansiapiapi, Rokan Hilir, sehingga terdengar cukup menggelitik. Terlebih sesekali dia juga berucap dengan bahasa daerah hingga terdengar "konyol".Podium seakan menjadi milik Gubernur Annas maamun, karena saat ini, pidatonya menjadi yang paling dinanti-nanti oleh masyarakat berbagai kalangan layaknya "Stand-up Comedy". (fzr)