PEKANBARU – Kebiasaan pemimpin daerah, termasuk Gubernur Riau, yang cepat merespons isu-isu viral di media sosial dinilai menunjukkan ketimpangan simbolik dalam struktur penghargaan sosial masyarakat.

Penilaian ini disampaikan Sosiolog Riau yang juga Dosen Psikologi Universitas Islam Riau (UIR), Dr Andree Armilis, SIp, PHdi, saat diwawancarai GoRiau.com, Minggu (13/7/2025).

"Atlet yang meraih prestasi di tingkat nasional mengalami degradasi simbolik. Prestasi mereka tidak diberikan nilai sosial yang sepadan dengan popularitas viral yang sifatnya sesaat," ungkapnya.

Ia melihat ada pergeseran nilai dalam masyarakat yang kini digerakkan oleh logika media sosial. Menurutnya, pengakuan (recognition) tak lagi berbasis kerja keras dan kompetensi, melainkan lebih kepada viralitas dan emosi publik.

"Hal ini berdampak negatif pada formasi nilai di masyarakat, karena bisa memunculkan persepsi bahwa popularitas lebih penting dibanding pencapaian melalui usaha dan disiplin," jelasnya.

Andree menekankan bahwa pemerintah daerah seharusnya bertindak sebagai agen rasionalisasi nilai. Ia menyarankan agar bentuk penghargaan lebih memprioritaskan kontribusi nyata dan jangka panjang, seperti prestasi olahraga, daripada hanya reaktif terhadap euforia sesaat yang viral di media sosial.

"Jika negara lebih cepat menanggapi fenomena viral ketimbang memenuhi hak-hak formal warga, seperti bonus yang sudah dijanjikan kepada atlet, maka publik akan kehilangan kepercayaan terhadap legitimasi dan konsistensi kebijakan," tambahnya.

Ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut bisa menggerus solidaritas sosial, merusak etos kolektif, dan melemahkan motivasi masyarakat untuk berprestasi. Jika terus dibiarkan, meritokrasi berpotensi tersingkir dari sistem nilai sosial yang seharusnya dijaga. ***