BAGANSIAPIAPI – Kematian mendadak Martha Kristina (10), siswi kelas IV SDS Methodis Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau menyisakan duka dan tanda tanya mendalam bagi keluarganya. Gadis cilik ini meninggal saat tengah libur sekolah dan hendak mengunjungi ibunya di Desa Sungai Bakau, Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rokan Hilir.

Sebelum berangkat, Martha sempat berpamitan dengan ayahnya, Raymon Sahat Parlindungan (42), dan neneknya, Netty Boru Tobing (68), di kediaman mereka di Jalan Pulau Baru Gang Al Waris, Kelurahan Bagan Barat, Bagansiapiapi.

Saat itu, Martha tampak ceria usai menerima rapor kelulusan dari kelas III ke kelas IV. Ia dijemput kerabat untuk mengunjungi ibunya dan adiknya, Jesica (7), yang tinggal sekitar 30 kilometer dari rumah mereka.

Namun, kegembiraan itu berubah menjadi duka. Sabtu (5/7/2025) sekitar pukul 11.00 WIB, Raymon menerima kabar mengejutkan bahwa Martha telah meninggal dunia. Ia diminta menyiapkan ambulans untuk membawa jasad putrinya kembali ke rumah duka.

Setibanya jenazah di rumah duka, pihak keluarga merasa curiga. "Kami melihat tubuh Martha penuh kejanggalan. Ada lebam di dada, kaki, perut, dan pinggang, serta goresan di beberapa bagian tubuh," ujar Raymon.

Kecurigaan itu membuat keluarga menghubungi Polsek Sinaboi dan Polsek Bangko. Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Protomo Bagansiapiapi untuk dilakukan visum, Sabtu (5/7/2025) sekitar pukul 16.00 WIB.

Menurut Netty Boru Tobing, nenek Martha, keluarga menerima informasi awal dari pihak kepolisian bahwa hasil visum sementara menunjukkan tanda-tanda kekerasan. "Jasad Martha kemudian dibawa ke Pekanbaru untuk otopsi lanjutan," jelasnya, Minggu (6/7/2025).

Usai proses otopsi, jenazah Martha dimakamkan di Pemakaman Umum Pusara Hilir, Bagansiapiapi.

"Kami berharap Polsek Sinaboi dan Polres Rohil bisa mengungkap penyebab kematian Martha. Adiknya, Jesica, sempat menceritakan hal-hal penting sebelum kakaknya meninggal. Ada dugaan bullying dan kekerasan saat bermain," ujar Netty, dengan wajah penuh kesedihan.

Raymon juga berharap agar penyidik bertindak sesuai prosedur hukum. Ia menegaskan pentingnya kejelasan dalam kematian anak sulungnya itu.

Kapolsek Sinaboi, AKP Yosi M, saat dikonfirmasi menyebut pihaknya tengah melakukan penyelidikan. Sejumlah saksi telah diperiksa untuk dimintai keterangan.

Sementara itu, tokoh masyarakat Batak dan warga setempat menyerukan agar kasus ini diusut tuntas. "Kalau memang ada bullying dari teman sebayanya, harus ada proses hukum yang sesuai. Ini jadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap anak-anak saat bermain," ungkap salah seorang warga Sungai Bakau.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebelum meninggal, Martha diduga dipaksa memberi uang dan mengalami perlakuan kasar dari anak-anak yang usianya lebih tua. Keluarga berharap semua akan terungkap agar Martha mendapatkan keadilan. ***