PEKANBARU – Program deteksi dini penyakit kronis seperti kanker serviks, diabetes dan hipertensi yang digaungkan Dinas Kesehatan Provinsi Riau menuai sorotan tajam dari pengamat kesehatan Riau, Dr (Cand) dr Feriandri Utomo, M.Biomed. Ia menilai, program tersebut tidak akan efektif tanpa kesiapan sistem pendukung yang matang.

"Deteksi dini memang sangat bermanfaat, tapi tanpa sistem rujukan yang solid dan tata kelola data yang terintegrasi, program ini justru bisa menjadi beban tambahan bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas," ujar Feriandri kepada GoRiau.com, Jumat (13/6/2025).

Ia mengkritisi lemahnya infrastruktur digital di sektor kesehatan Riau, terutama ketiadaan sistem Electronic Health Record (EHR) yang terintegrasi. Padahal menurutnya, keberadaan EHR menjadi kunci keberhasilan program pencegahan penyakit.

"Sistem ini harus mampu merekam dan melacak seluruh proses, mulai dari hasil deteksi dini, riwayat rujukan, hingga outcome klinis pasien. Dengan begitu, efektivitas program pencegahan dapat dievaluasi secara ilmiah dan berkelanjutan," urainya.

Tak hanya itu, Feriandri juga mendorong adanya reformasi kebijakan fiskal di sektor kesehatan daerah. Ia mengusulkan pemberian insentif bagi puskesmas atau daerah yang berhasil menurunkan angka prevalensi penyakit kronis secara signifikan.

"Kalau ada daerah yang angka rujukannya menurun karena pencegahan yang berhasil, itu harus diapresiasi dengan tambahan anggaran atau insentif kinerja," tambahnya.

Feriandri menilai, pembangunan ekosistem kesehatan preventif tidak bisa dilepaskan dari peran edukasi masyarakat yang kuat. Edukasi tersebut, menurutnya, harus berbasis data dan melibatkan seluruh lapisan sosial.

“Edukasi jangan hanya bersifat seremonial, tapi benar-benar menyasar perubahan perilaku. Kader Posyandu, RT/RW, sampai sekolah-sekolah harus dilibatkan,” tegasnya.

Ia juga menyinggung krisis pembiayaan BPJS Kesehatan yang dinilainya tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembatasan layanan semata. Menurut Feriandri, solusi jangka panjang harus dibangun melalui penguatan sistem kesehatan berbasis data, upaya preventif, dan keterlibatan seluruh sektor.

"Tanpa membangun ekosistem yang kuat dan berbasis data, kita hanya akan berkutat pada solusi tambal sulam," pungkasnya. ***