
JAKARTA - Megahnya sistem digital kepabeanan milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) ternyata masih menyisakan celah serius akibat intervensi manusia. Skandal forwarder yang tengah bergulir membuka borok pelemahan pengawasan impor melalui manipulasi elemen penentu nasib barang, yakni parameter risiko dalam rule set targeting.
Parameter tersebut berfungsi krusial untuk menentukan apakah barang masuk ke jalur hijau, kuning, atau merah. Khusus untuk jalur merah, negara mewajibkan adanya pemeriksaan fisik secara ketat terhadap muatan barang impor.
Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus menilai kelemahan utama sistem pengawasan digital ini justru terletak pada aktor pemegang kendali parameter tersebut.
"Masalahnya, sistem digital tetap punya satu titik paling manusiawi yakni siapa yang mengatur parameter," kata Iskandar di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Sesuai dengan ketentuan INS-1/BC/2025, kewenangan penyusunan hingga pemutakhiran parameter berada di bawah Direktorat Penindakan dan Penyidikan DJBC beserta unit terkait di tingkat pusat maupun daerah. Regulasi ini membuktikan bahwa kontrol sistem tidak berjalan otomatis, melainkan tetap berada dalam jangkauan keputusan manusia di level strategis.
Celah kewenangan ini terbukti dimanfaatkan dalam kasus Blueray Cargo yang dibongkar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penyidik menemukan dugaan pengondisian jalur impor lewat penyesuaian parameter hingga rule set ditetapkan pada angka 70 persen. Praktik ini membuat barang yang seharusnya masuk jalur merah justru lolos melenggang tanpa pemeriksaan fisik.
"Ia bisa berubah menjadi alat negosiasi risiko," ujarnya menyoroti rapuhnya benteng pengawasan tersebut.
Manipulasi ini berdampak sangat fatal karena membuka keran masuknya barang ilegal, barang tiruan, atau produk yang tidak sesuai ketentuan ke dalam negeri tanpa kontrol negara. Di luar dampak tersebut, KPK turut membongkar jejak aliran dana rutin dan menyita barang bukti senilai Rp40,5 miliar dalam bentuk uang serta aset bernilai tinggi.
"Ini bukan sekadar suap. Penyakitnya adalah kemungkinan rapuhnya sistem kendali internal di balik perubahan parameter risiko," urai Iskandar.***