DURI - Tidak pernah terbayangkan oleh SP, pelajar SMA Swasta, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau ini mengikuti Ujian Nasional UN di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bengkalis seorang diri dan diawasi oleh dua orang guru. Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur dan SP harus mengikuti UN meski tidak bersama teman-teman sekolahnya.

Kasubsi Registrasi Lapas Bengkalis, Mahrob kepada GoRiau.com mengatakan, SP yang terjerat kasus penadahan ini sudah 7 bulan masuk ke lapas. Namun keinginannya untuk mengikuti ujian ini sangat tinggi.

"Sebulan yang lalu dia minta tolong kepada saya untuk menghubungi Dinas Pendidikan, untuk mencari informasi kapan pelaksanaan UN SMA. SP juga berpesan, tolong sampaikan bahwa dia juga ingin ikut UN," kata Marhob, Senin (4/4/2016) siang.

Menurut Marhob, saat menjalani UN dilapas tadi, SP sama sekali tidak tegang atau stres. Ia malah terlihat senang meskipun tidak yakin bisa menjawab semua soal UN tersebut.

"Hanya beberapa menit saja saya melihatnya, lalu saya tinggalkan dengan pengawas sekolah yang datang yakni Jumali SAg dan Yeyen Suhana SPdi," ujar Mahrob lagi.

Sementara itu, SP sendiri saat dikonfirmasi GoRiau.com mengaku senang bisa mengikuti UN meski berada didalam tahanan. " Terimakasih karena sudah memberikan saya fasilitas untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) di tahanan," kata SP.

"Saya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Satu bulan ke depan saya sudah bebas dari masa tahanan dan tidak akan terlambat untuk mengikuti tes diperguruan tinggi. Tidak dapatpun negeri, saya akan kuliah di swasta. Saya ingin bayar kesalahan saya ini kepada orangtua. Saya menyesal karena sudah terayu untuk membeli hp murah yang nyatanya hp curian," ungkap SP, jurusan IPA ini.

Saat ditanyakan apakah ia mampu menjawab soal UN tersebut, SP langsung tersenyum dan berkata "Dibisa-bisakan. Selama 7 bulan di LP saya tidak pernah belajar. Tapi saya punya keinginan untuk lulus tahun ini. Agar tidak merepotkan orangtua saya," tutupnya. ***