TEMBILAHAN, GORIAU.COM - Selasa (13/10/2015) semalam, menjadi hari yang paling bahagia bagi M Yoga, bagaimana tidak, bocah sembilan tahun ini, sudah menunggu selama empat tahun lamanya untuk bisa bersekolah.

Berkat bantuan dari seorang donatur yang memberikan sebuah kursi roda padanya, akhirnya ia bisa kembali ke sekolah seperti yang selama ini telah diimpikannya.

Empat tahun lalu, sebelum masuk sekolah, Yoga terserang suatu penyakit yang mengakibatkan kedua kakinya tidak bisa digerakkan.

Karena semangat sekolahnya yang tinggi, sang ibulah yang setiap hari mengantarnya dengan cara menggendong bocah berbadan gemuk itu untuk pergi ke sekolah.

Namun hanya sampai tiga bulan, akhirnya ia pun terpaksa berhenti bersekolah, karena sang ibu sudah tidak sanggup lagi menggendongnya setiap hari, apalagi letak sekolah cukup jauh dari rumahnya, yang mana saat itu ia bersekolah di salah satu Sekolah Dasar di Desa Sialang Panjang, Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau .

Setelah berhenti sekolah, Yoga pun diobati dengan berbagai pengobatan tradisional, mengingat orangtuanya bukan dari kalangan berada, ia pun diobati alakadarnya saja.

Namun, tanda-tanda Yoga mengalami kemajuan belum terlihat, sehingga ia pun belum dapat melanjutkan sekolahnya.

Hingga akhirnya, salah satu gurunya saat itu, yang saat ini sudah menjadi Kepala Sekolah (Kepsek) di SDN 004 Tembilahan Hulu, M Fadli mengajak orangtua Yoga untuk pindah ke Tembilahan.

Ia menawarkan, agar Yoga bersekolah di SDN yang dipimpinnya, dan kemudian ia mencarikan rumah kontrakan yang tidak jauh dari sekolah itu.

''Karena tidak tahu bagaimana cara Yoga ke sekolah, saya memposting sebuah tulisan melalui facebook yaitu pada grup100.000 tuntutan perbaikan kinerja Pemda Inhil, di sana saya mengajak teman-teman anggota untuk mengumpulkan bantuan agar Yoga bisa membeli kursi roda,'' cerita Fadli kepada GoRiau.com, Rabu (14/10/2015).

Namun belum sempat mengumpulkan sumbangan, tiba-tiba, ada seorang anggota di grup tersebut dikatakan Fadli membelikan satu buah kursi roda untuk Yoga.

Setelah mendapatkan kursi roda, masalah lain pun timbul, dimana dikatakan Fadli, uang yang dimiliki orangtua Yoga tidak cukup untuk membayar uang sewa rumah.

''Mereka cuma punya uang Rp1,5 juta, sedangkan biaya sewa rumah 6 bulan Rp2,5 juta. Akhirnya saya meminta bantuan melalui Komunitas Pencinta Sedekah Inhil (KPSI), dan KPSI menambahkan kekurangan uang tersebut,'' ujarnya.

Sementara untuk pekerjaan, dikatakan Fadli, sang donatur yang memberikan kursi roda kepada Yoga, juga membuatkan sebuah gerobak agar ayah Yoga bisa menggunakannya untuk berjualan makanan.

''Kebetulan ayahnya Yoga bisa membuat martabak, jadi kita rekomendasikan untuk berjualan martabak saja, tapi saat ini, gerobaknya masik dalam proses pembuatan,'' lanjut Fadli.

Hingga akhirnya, Yoga pun dapat pergi bersekolah, di hari pertama ia menggunakan kursi roda tersebut ke sekolah, wajahnya terlihat ceria dan langusng mengambil foto bersama teman-temannya.

''Saya masukan dia di kelas tiga, untuk keperluan sekolah semuanya gratis, karena kita menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, seperti sang donatur, KPSI dan teman-teman di grup100.000 tuntutan perbaikan kinerja Pemda Inhil,'' tukas Fadli.(ayu)