PEKANBARU - Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan penyebab kematian nomor dua terbesar di dunia, setelah jantung koroner. World Health Organization (WHO) mencatat, setiap tahunnya 270 ribu wanita meninggal akibat kanker serviks.

''Pasien kanker serviks meningkat setiap tahun dan korban meninggal akibat kanker serviks juga meningkat. Hampir 500 ribu wanita terdiagnosa terkena kanker serviks dan lebih dari setengahnya meninggal dunia,'' ujar dokter Riyanda Ferdiansyah, pada Seminar Kesehatan ''Deteksi Dini untuk Mencegah dan Menangani Kanker Serviks'' di auditorium Kampus Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), Jalan KH Ahmad Dahlan Pekanbaru, Sabtu (28/10/2017). Seminar ini terselenggara atas kerja sama DPP PPNI Univrab-Umri dan Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Riau.

Di Indonesia, ungkapnya, setiap tahunnya lebih 40 ribu kasus baru kanker serviks dan merupakan jenis kanker ginekologi dengan frekuensi tertinggi, yaitu sebanyak 76,2 persen di Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo Jakarta.

''Pada tahun 2007, total kasus kanker serviks berjumlah 3.112 kasus dan 75 persen didiagnosis terserang kanker serviks stadium lanjut,'' tambah dokter yang akrab disapa Ferdi itu.

Ia menyayangkan, kebanyakan perempuan datang saat mereka sudah terkena kanker serviks stadium lanjut. Hal ini disebabkan karena penyakit ini tidak menimbulkan gejala-gejala awal.

''Kanker serviks ini terbagi menjadi dua, yaitu kanker serviks stadium dini yang masih bisa dioperasi dan kanker serviks stadium lanjut. Di mana tumornya sudah mengalami pembesaran dan yang bisa dilakukan hanya kemoterapi dan radiasi yang sifatnya sementara,'' sebut Ferdi.

Ia juga menjelaskan penyebab banyaknya wanita terkena kanker serviks, di antaranya pola hidup yang tidak sehat, melakukan hubungan intim di usia dini serta kebiasaan merokok.

''Hubungan dengan gonta-ganti pasangan atau melakukan seks di usia muda bisa mengakibatkan munculnya human papilloma virus (HPV) pada perempuan yang dapat menyebabkan kanker serviks,'' sebutnya.

Aktif Secara Seksual Berisiko

Sedangkan dokter Wiwik Norlita mengingatkan, semua wanita berpotensi terserang kanker serviks. ''Semua wanita dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini cenderung memengaruhi wanita yang aktif secara seksual,'' terang Wiwik.

Dijelaskannya, kanker ini muncul pada leher rahim wanita, yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Untuk mencegah kankers serviks, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Diantaranya menjalani pola hidup sehat dengan cara mengonsumsi makanan dan minuman bergizi, bernutrisi dan baik bagi tubuh. Kemudian engonsumsi makanan sehat dan kaya serat, vitamin serta berolahraga secara teratur serta berhenti merokok dan hindari perokok pasif.

''Untuk mencegah kanker serviks kita bisa mengonsumsi wortel, kacang, ubi ungu dan ubi merah, karena banyak mengandung vitamin,'' tambahnya.

Selanjutnya, menjaga kesehatan tubuh dan sanitasi kebersihan lingkungan dengan menghindari hubungan intim pada usia dini, menghindari pembersihan genital atau organ kewanitaan dengan air kotor, melakukan vaksinasi HPV sebelum melakukan hubungan intim, tidak bergonta ganti pasangan, lakukan pemeriksaan pap smear, minimal dua tahun sekali, khususnya bagi yang telah melakukan hubungan intim.

Selanjutnya, memilih pembalut yang sehat dan aman saat masa menstruasi, karena saat ini banyak beredar produk pembalut yang mengandung pemutih atau zat dioksin yang dapat memicu kanker serviks.

''Jadi kalau dalam keadaan menstruasi harus sering mengganti pembalut, karena jika tidak akan memicu timbulnya kanker serviks,'' pungkasnya.***