PEKANBARU – Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Riau anjlok drastis sepanjang semester pertama 2025, hanya mencapai 119 ribu orang. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, angka kunjungan mencapai 240 ribu.

Dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Universitas Riau, Firdaus Yusrizal, mengkritik arah kebijakan pariwisata Riau yang dinilainya keliru dan tidak berkelanjutan. Ia menilai, selama ini pengelolaan wisata terlalu sibuk mendewakan daya tarik, tapi abai menciptakan pengalaman yang membuat wisatawan ingin tinggal lebih lama dan kembali berkunjung.

Kita terlalu sibuk mendewakan daya tarik wisata, tapi melupakan bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama dan ingin kembali,” ujar Firdaus saat dihubungi melalui WhatsApp pribadinya, Sabtu (2/8/2025) malam.

Menurutnya, pendekatan pariwisata di Riau masih cenderung terpaku pada promosi dan event, tanpa membenahi kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh. “Kunjungan pertama bisa dibentuk oleh promosi, tapi kunjungan kedua muncul karena keterikatan. Itu yang belum kita miliki,” ujarnya.

Firdaus menyoroti pula persoalan definisi dan metode pencatatan. Ia menyebut, penurunan kunjungan tak selalu mencerminkan minat wisatawan yang menurun, tapi juga bisa disebabkan perubahan sistem pencatatan. “Dulu, semua pemegang paspor asing dianggap wisatawan. Sekarang dibedakan. Pelintas batas, pekerja, bahkan diplomat tak lagi masuk hitungan sebagai wisatawan liburan,” jelasnya.

Turun Lebih dari 50 Persen

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Riau menunjukkan, sepanjang Januari–Juni 2025, jumlah wisman hanya mencapai 119.505 orang. Angka itu anjlok 51,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (245.222 kunjungan). Riau kehilangan lebih dari 125 ribu kunjungan dalam setahun terakhir.

Ironisnya, pada Juni 2025 dengan bulan dengan kunjungan tertinggi, hanya 7.802 orang yang tercatat masuk melalui pintu imigrasi resmi seperti Bandara SSK II, Pelabuhan Dumai, Bengkalis, dan Tanjung Harapan (Meranti). Sisanya, sebanyak 16.564 kunjungan, hanya terpantau melalui Mobile Positioning Data (MPD) di wilayah Bengkalis.


Firdaus menyebut gejala ini sebagai peringatan. “Kita tidak sedang krisis promosi, tapi krisis pengalaman. Wisatawan datang, tapi tidak kembali,” katanya. Ia menilai Riau terlalu fokus mengejar ‘momen’, bukan membangun keterhubungan emosional antara pengunjung dan destinasi.

Faktor eksternal pun turut menjadi beban. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), misalnya, menciptakan ketidaknyamanan yang serius. “Siapa yang mau liburan ke daerah yang langitnya abu-abu dan udaranya berasap?” ucap Firdaus.

Ketergantungan pada Malaysia sebagai pasar utama juga jadi sorotan. Sebanyak 47,07 persen atau sekitar 11.468 wisatawan Riau berasal dari Negeri Jiran. Namun pasar lain justru menurun: Singapura turun 59,90 persen, Korea Selatan 47,33 persen. Kunjungan dari Amerika dan Jepang memang naik tajam (masing-masing 491,67 persen dan 154,55 persen), tapi secara jumlah absolut masih terlalu kecil untuk disebut sebagai harapan baru.

Firdaus menilai momentum budaya seperti Pacu Jalur, yang baru-baru ini viral lewat tren “aura farming” di media sosial, patut dimanfaatkan. Tapi ia mengingatkan agar Riau tak mengandalkan satu-dua acara saja. “Wisata itu soal kesinambungan. Kalau kita hanya kuat di satu bulan festival, lalu vakum sebelas bulan, ya orang enggan kembali,” katanya.

Meski demikian, Firdaus tetap optimistis. “Riau punya tradisi yang kuat, kekayaan alam, dan kedekatan geografis dengan pasar internasional. Tapi semua itu percuma kalau kita tidak punya kemauan untuk merancang pariwisata dengan serius,” katanya.

Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan: dari cara promosi, kualitas layanan, hingga pengelolaan destinasi berbasis pengalaman. “Data sudah bicara. Sekarang tinggal kemauan para pengambil kebijakan untuk menjawabnya dengan tindakan konkret,” tegas Firdaus. ***