
PEKANBARU - Sejumlah situs sejarah di Kota Pekanbaru terancam kehilangan maknanya di tengah masifnya laju perkembangan kota. Sebagai upaya penyelamatan, pengembangan media peta yang memuat lokasi dan informasi sejarah lokal kini mulai digalakkan untuk memperkenalkan kembali jejak masa lalu kepada publik.
Gagasan inovatif ini diinisiasi oleh Ego Prayogo, seorang mahasiswa yang menaruh perhatian khusus pada pelestarian sejarah lokal. Ia merancang media peta tersebut sebagai sarana interaktif agar masyarakat lebih mudah mengenali sekaligus mendalami nilai historis yang melekat pada berbagai situs cagar budaya di Pekanbaru.
Bagi Ego, situs sejarah bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi identitas dan bukti perjalanan sebuah daerah. Oleh sebab itu, informasi terkait peninggalan ini perlu dikemas semenarik mungkin dan mudah diakses, khususnya bagi generasi muda.
"Media peta dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan sejarah kepada masyarakat. Kita ingin sejarah lokal tidak hanya berdebu di dalam buku atau arsip, tetapi hidup dan dipahami warga melalui penyajian yang menarik," jelas Ego kepada GoRiau.com, Selasa (18/8/2026).
Riset dan pengembangan peta sejarah ini dilakukan di bawah arahan akademis Dosen Pembimbing, Dr Asyrul Fikri, MPd. Dalam proses penyusunannya, Ego turut didampingi oleh Pembimbing I, Dr Bunari, MSi, serta Pembimbing II, Yuliantoro, MPd.
Peta sejarah ini diharapkan tidak hanya berhenti di atas meja akademik. Hasil pemetaan tersebut diproyeksikan menjadi basis data bagi sekolah, komunitas sejarah, hingga Pemkot dalam mengenali dan mendokumentasikan peninggalan berharga yang tersebar di Pekanbaru.
Pemanfaatan teknologi, paparnya, harus dimaksimalkan untuk memperkuat pelestarian sejarah. Dokumentasi digital dan pemetaan modern diyakini mampu membawa informasi sejarah lebih dekat dengan keseharian warga tanpa bergantung seutuhnya pada metode arsip konvensional.
Di sisi lain, ia mendorong Pemkot Pekanbaru untuk memberikan porsi perhatian lebih besar terhadap keberadaan situs-situs bersejarah. Pembangunan kota yang pesat dinilai harus tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan ingatan kolektif warganya.
"Harapannya kepada Wali Kota Pekanbaru agar warisan sejarah dan kebudayaan lokal kita tetap dijaga serta dilestarikan. Jangan sampai masifnya pembangunan membuat generasi mendatang kehilangan jejak akar daerahnya sendiri," harapnya.
Pemerintah juga disarankan untuk memperkuat sinergi pendataan cagar budaya dengan menyediakan ruang edukasi bagi pemuda. Keterlibatan akademisi, komunitas, dan masyarakat umum sangat krusial dalam mengubah situs sejarah menjadi destinasi wisata edukasi yang potensial.
Pembuatan peta ini menjadi langkah awal untuk memastikan sebuah situs tidak hanya dikenang sebatas nama atau penanda lokasi. Dokumentasi yang baik diyakini mampu menumbuhkan pemahaman konteks sejarah dan memperkuat kesadaran publik untuk melindunginya.
"Menjaga sejarah sejatinya adalah menjaga ingatan kolektif masyarakat itu sendiri," pungkasnya. ***