TEMBILAHAN, GORIAU.COM - Trauma warga di Desa Pungkat, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), hingga hari ini belum juga berakhir. Tidak hanya takut beraktifitas, anak-anak di sana juga takut berangkat ke Sekolah, terutama anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Mendengar hal itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Inhil bersama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Lembaga Swadaya Masyarakat Perjuangan Anak Negeri (LSM PERAN) terjun langsung ke Desa Pungkat, Rabu (13/8/2014) untuk melihat kebenaran dari hal itu.

''Saat kita tiba di Pungkat, warga menyambut kita seraya menceritakan trauma yang hingga saat ini masih mereka rasakan,'' jelas Ketua PWI Inhil, M Yusuf.

Dari cerita para warga disana, Yusuf mengatakan bahwa mereka takut melakukan aktifitas sehari-hari, bahkan anak-anak mereka yang masih SD juga takut pergi ke sekolah hingga hari ini.

''Bahkan, pengantin wanita yang ketika kejadian kedatangan brimob tengah melangsungkan pesta pernikahan, hingga hari ini masih sakit,'' tambah ketua PWI ini pula.

Ketika jam 21.00 WIB saja, keadaan Desa yang memakan waktu 2 jam untuk sampai kesana melalui jalur air dari Tembilahan itu sudah tidak terlihat warga berkeliaran. ''Bahkan mereka mengakui untuk buang air saja mereka melakukannya di dalam rumah, padahal warga di desa toilet atau WC memang berada diluar rumah,'' kata dia lagi.

Yusuf juga menyangkan, hingga keadaan di Desa Pungkat menjadi seperti saat ini namun tidak satupun perwakilan dari Pemerintah Kabupaten yang melihat kesana. ''Hal ini diperparah dengan tidak adanya perhatian dari Pemkab Inhil,'' sebut Yusuf.

Selain mengunjungi warga disana, PWI juga memberikan santunan untuk sekedar membantu warga di salah satu desa yang ada di Negeri Seribu Parit ini.(ayu)