SELATPANJANG - Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Babus Sa’adah yang terletak di Desa Kedabu Rapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, sukses membuat terobosan baru. Lembaga ini berhasil memadukan pendidikan keagamaan dengan jalur nonformal demi memastikan para santri memperoleh dokumen kelulusan umum yang sah dari negara.

Momen bersejarah ini ditandai dengan perayaan Haflah Akhirussanah Angkatan VI sekaligus pelepasan perdana peserta didik PKBM Dewan Dakwah Kabupaten Kepulauan Meranti Angkatan I Tahun Ajaran 2025–2026, Selasa (9/6/2026). Langkah mandiri ini meluluskan delapan siswa, yang terdiri atas enam pelajar tingkat Paket B dan dua pelajar tingkat Paket C.

Mudir Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Babus Sa’adah, Muhammad Izharul Mukhtar menjelaskan bahwa integrasi dua sistem pembelajaran ini merupakan strategi utama pihak yayasan. Upaya tersebut diambil agar masa depan akademik para santri pasca-lulus menjadi lebih terarah dan fleksibel.

"Di pondok ini ada dua lembaga yang berjalan bersama, yaitu pesantren dan PKBM. Kehadiran PKBM menjadi ikhtiar kami agar santri tidak hanya mendapatkan pendidikan keagamaan, tetapi juga memperoleh pendidikan umum yang ijazahnya diakui dan dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya," jelasnya.

Pola pendidikan ganda ini dirancang khusus untuk mematangkan karakter siswa, memperkuat pemahaman spiritual, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan praktis yang relevan untuk masa depan.

"Kami berharap pondok ini dapat terus menjadi tempat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan," tambahnya.

Apresiasi dari Pemerintah Kecamatan

Inovasi metode belajar yang diterapkan di wilayah pesisir ini mendapat tanggapan positif dari otoritas setempat. Keberadaan pesantren dinilai sangat membantu pemerintah dalam membangun benteng moral bagi generasi muda setempat.

Camat Rangsang Pesisir, Syaherullah menyebutkan bahwa sumbangsih nyata dari pondok pesantren terlihat jelas pada perubahan perilaku dan pembentukan akhlak para santri selama masa pembinaan.

"Melalui pesantren, anak-anak tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga dibentuk karakter dan akhlaknya agar mampu menghadapi tantangan kehidupan ke depan," ungkapnya.

Ia juga mengingatkan para lulusan angkatan pertama ini untuk tetap membumi dan menjaga reputasi baik lembaga tempat mereka menimba ilmu saat kembali ke lingkungan masyarakat.

"Teruslah menuntut ilmu, jaga nama baik orang tua dan pondok pesantren, serta jadilah generasi yang memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan daerah," pungkasnya. ***