JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin mengkhawatirkan hingga menjebol level psikologis Rp18.000. Alih-alih sekadar menunggu intervensi moneter, pemerintah justru menyiapkan siasat klasik namun taktis berupa skema perdagangan barter antarnegara.

Berdasarkan data pantauan pasar, Kamis (4/6/2026) pukul 13.54 WIB, kurs rupiah bertengger di angka Rp18.042/US$. Pelemahan tajam ini memicu kekhawatiran publik terhadap lonjakan harga barang impor di pasar domestik.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso meredam kepanikan pasar dengan menyodorkan data performa perdagangan nasional. Ia menilai sektor riil belum terguncang parah oleh fluktuasi mata uang asing.

"Kondisi masih bagus, ekspor kita tetap naik 5,48 persen," ujar Budi Santoso di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Siasat Barter Mengakali Kedigdayaan Dolar

Sebagai bentuk mitigasi dampak jangka panjang, Kementerian Perdagangan mulai mengeksekusi sistem tukar barang atau barter. Negara pertama yang dibidik untuk memuluskan skema darurat ini adalah Filipina.

Budi membeberkan bahwa inisiatif tersebut lahir dari obrolan dengan delegasi negara tetangga saat gelaran kawasan Asia Tenggara (ASEAN) beberapa waktu lalu. Kondisi ekonomi kedua negara yang sama-sama tertekan dolar menjadi katalis utama kesepakatan ini.

"Waktu kemarin di acara ASEAN, kami bertemu pengusaha Filipina. Dia bilang, nilai tukar atau uang Filipina juga kurang bagus. Kemudian ditawarkan jual-beli barang dengan cara barter," urainya.

Kesepakatan bilateral ini rupanya bukan sekadar wacana di atas kertas. Budi memastikan pihak pembeli sudah siap dan eksekusi resminya tinggal menghitung hari, meski rincian komoditasnya masih dirahasiakan dari publik.

"Nah ini sudah kita carikan pembelinya sudah ketemu, nanti tanggal 12 kita akan tanda tangan kontrak dengan buyer," paparnya.

Mengamankan Nasib Bahan Pokok Impor

Keperkasaan dolar AS jelas berimbas langsung pada berbagai industri di Tanah Air yang masih bergantung pada bahan baku impor. Sektor vital mulai dari pertanian hingga logistik mulai merasakan dampaknya, terutama untuk pengadaan pupuk, kedelai, hingga suku cadang kendaraan.

Menyikapi potensi kelangkaan dan lonjakan harga di tingkat konsumen, pemerintah mengklaim telah mengunci pasokan agar ketersediaan bahan pokok di pasar tetap stabil. Koordinasi ketat dengan para pelaku usaha terus diintensifkan.

"Dari importasi bahan baku, kita selalu monitor. Dan, kita terus komunikasi dengan para produsen jangan sampai ada yang terganggu. Gitu, kan. Jangan sampai stok enggak ada," pungkasnya. ***