
DURI - Rumah adat suku Sakai di daerah Sobanga, Desa Kusumbo Ampai, Kecamatan Mandau, Bengkalis, merupakan salah objek wisata baru di Provinsi Riau. Meski biasa bagi masyarakat tempatan, tetapi para wisatawan dan peneliti banyak yang sengaja datang untuk mengetahui lebih banyak tentang suku Sakai ini.
Suku Sakai merupakan salah satu masyarakat adat asli di Provinsi Riau yang tersebar di sejumlah Kabupaten, yaitu Kampar, Bengkalis, Indragiri hulu, dan Siak. Mereka tergolong Melayu Tua (Proto Melayu) yang awalnya hidup nomaden dengan bergantung pada hasil hutan dan sungai.
Di Duri, orang Sakai terbanyak berada di wilayah Desa Kesumbo Ampai Kecamatan Mandau, Bengkalis, berjarak sekitar 180 kilometer dari Kota Pekanbaru. Suku Sakai sekarang bukan suku yang terpinggirkan. Sudah ada yang jadi Lurah, Camat, Bupati dan bahkan bisa jadi Gubernur.
"Karena itu mari kita ajak anak-cucu kita untuk melestarikan budaya ini agar tempat ini bisa bercerita tentang sejarah nenek moyang kita. Harapan kami agar kearifan lokal ini bisa dilestarikan," kata Suhardi, Ketua Majelis Suku Sakai Riau kepada GoRiau.com (GoNews Grup), Minggu (18/12/2016).
Dijelaskannya, rumah adat suku Sakai yang dibangun oleh perusahaan industri hutan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (IKPP) dan PT Arara Abadi (Arara) dari grup APP-Sinar Mas Forestry, beberapa tahun silam ini diresmikan oleh Asisten II Pemerintahan Provinsi Riau, Achmad Syah Harrofie saat menjabat sebagai Pj Bupati Bengkalis.
"Jika hanya membaca dan tidak datang langsung melihat isi rumah adat Sakai ini, tentunya wisatawan atau peneliti tidak akan mendapatkan cerita yang sebenarnya atau sesungguhnya," katanya.
Rumah adat tersebut berdiri di lahan seluas sekitar 1,3 hektare menggunakan konstruksi lebih kuat karena menggabungkan kayu dan besi. Pembangunan rumah adat tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp1 miliar.
Rumah adat yang berbentuk rumah panggung itu merupakan kekayaan budaya bagi warga Sakai. Tempat itu juga berfungsi sebagai museum karena berisi beragam peralatan dan peninggalan Suku Sakai, seperti baju dari kulit kayu, foto kehidupan masyarakat Sakai tempo dulu, alat musik, peta tanah adat, hingga keris kuno.
"Kami menggunakan rumah ini untuk dapat saling berbagi ilmu, melatih kesenian khas adat Sakai dan mempererat hubungan persaudaraan kami. Kami berharap masyarakat perantau di Duri juga bisa memelihara dan mendukung kelestarian budaya kami di masa depan, sehingga tercipta hubungan yang berkesinambungan antara masyarakat lokal dan perantau di tanah melayu ini," katanya lagi.*** #BENGKALIS