PEKANBARU, GORIAU.COM - Perusahaan daerah Provinsi Riau PT Riau Petroleum (RP) menyatakan enggan menggandeng Pertamina dalam upaya mendapatkan izin pengelolaan ladang minyak Blok Siak.

''Kita melihat bukti dari kerjasama Pertamina dengan BUMD Bumi Siak Pusako di CPP Blok tidak bagus, produksi minyak malah terus turun,'' kata Komisaris RP Abdi Haro di Pekanbaru, Rabu (3/4/2013).

RP sejak akhir 2012 sudah memasukan pengusulan kepada Kementerian ESDM untuk dapat mengelola Blok Siak yang kontraknya dengan PT Chevron Pacific Indonesia akan habis pada November tahun ini.

Dalam rencananya, RP sudah melakukan nota kesepahaman dengan PT Ekamaro Sakti dimana pembiayaan operasional nanti mendapat bantuan dari United Overseas Bank Limited (UOB) dari Singapura.

Menurut Abdi Haro, pihaknya kurang kepercayaan dengan kinerja Pertamina karena melihat pengelolaan CPP Blok, dimana perusahaan negara itu bekerjasama dengan PT Bumi Siak Pusako (BSP) dalam badan operasi bersama (BOB) sejak 2002.

Produksi minyak CPP Blok saat dikelola Chevron sempat mencapai 50.000 barel per hari, namun terus anjlok ketika ditangani BOB Pertamina-BSP. Produksi minyak di CPP bahkan pada awal 2013 tercatat hanya 14.869 barel. "Inikan masalah selera," kata Abdi Haro.

Bahkan, ia mengatakan malah tidak tertutup kemungkinan RP nantinya akan bekerjasama dengan Chevron di Blok Siak karena pertimbangan kinerja perusahaan asing lebih baik dari segi teknologi apalagi finansialnya.

Kontrak bagi hasil Chevron di Blok Siak akan mencapai 22 tahun dan habis masa berlakunya pada 27 November 2013.

Sesuai UU 22 Tahun 2001 tentang Migas, Blok Siak akan kembali ke pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas. Pengelolaan selanjutnya akan diputuskan oleh Kementerian ESDM.

Berdasarkan catatan, baru Chevron dan PT RP yang mengusulkan kepada Kementerian ESDM untuk mengelola Blok Siak selanjutnya.

Selama dikelola Chevron, Blok Siak kini memproduksi minyak 1.600-2.000 barel per hari. (ant/mtv)