DALAM hitungan jam, kalender akan menutup lembar terakhir tahun 2025. Detik-detik ini bukan sekadar pergantian angka, tetapi momen jeda untuk menoleh ke belakang, menghitung luka, merawat harap, dan menimbang masa depan Riau dengan hati yang jujur.

Tahun 2025 adalah tahun yang tidak pernah benar-benar tenang bagi Riau. Ia berdenyut dalam irama pahit dan manis yang bersamaan, seperti batang kuantan yang membawa lumpur sekaligus kehidupan.

Kenangan Pahit: Ketika Kepercayaan Runtuh

Tak ada yang bisa mengingkari, politik Riau 2025 meninggalkan luka mendalam. Penangkapan kepala daerah oleh KPK kembali menjadi tamparan keras bagi martabat pemerintahan, walaupun kita mulai meragukan daya jeli kpk nan memperpanjang penahanan tanpa berani menggelar sesegera mungkin ke Pengadilan dunia, nan mulai kita pertanyaan. Harapan rakyat yang dititipkan melalui bilik suara, kembali runtuh di hadapan borgol dan rompi oranye.

Lebih pahit lagi, krisis tunda bayar APBD menghantam dari hulu hingga hilir. Kontraktor kecil megap-megap, pelaku UMKM kehilangan napas, kegiatan pembangunan tersendat, dan aparatur di lapangan bekerja dalam ketidakpastian. Negara hadir, tetapi terasa jauh, bahkan jauh sekali seperti kasus desa pesikaian yang bertikaian antara warga tempatan berharap lama sekali akan ulayatnya nan dirampok resmi tak pernah mendapatkan kompensasi positif. Lucunya bakal masuk pula para eks TNTN masuk dengan karpet merah lengkap dengan fasilitas plat merah, mak oii nasiblah kampung kito. Pemerintah ada, namun keadilan terasa lambat.

Riau seperti berjalan dengan kaki terikat—ingin maju, tapi beban masa lalu terus menyeret.Kenangan Manis: Rakyat yang Tetap Bertahan

Namun Riau bukan hanya tentang kegagalan elite. Kenangan manis justru lahir dari rakyatnya.

Di tengah keterbatasan, solidaritas tumbuh. Masjid-masjid menjadi ruang sosial yang hidup. Komunitas bergerak, relawan lingkungan tak lelah mengingatkan tentang alam yang kian rapuh. Akademisi, mahasiswa, dan masyarakat sipil terus bersuara—menjadi penjaga nurani di saat negara sering alpa.

Di sektor ruang dan kota, kesadaran akan pentingnya keteraturan, keadilan ruang, dan hak pejalan kaki mulai mendapat tempat dalam diskursus publik. Ini kecil, tapi bermakna. Karena perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran. Walaupun ada di kuansing sana yang merasa telah mempunyai sertifikat tanah HGB bakal berjuang dengan pemerintah kabupaten untuk mempertahankan haknya, yang bakal diambil alih untuk pembangunan RTH Kota Teluk Kuantan.

Riau 2025: Cermin yang Tidak Boleh Dipecahkan

Tahun 2025 adalah cermin besar bagi Riau. Ia memantulkan wajah kita apa adanya—dengan keriput kekuasaan, tetapi juga dengan mata rakyat yang masih menyala.

Cermin ini tidak boleh dipecahkan, apalagi dilupakan. Karena lupa adalah awal dari pengulangan kesalahan.

Riau 2026: Harapan yang Harus Dipaksa Tumbuh

Tahun 2026 tidak boleh diserahkan pada nasib semata. Ia harus dipaksa menjadi lebih baik—dengan keberanian memperbaiki tata kelola, ketegasan menata keuangan daerah, dan kesungguhan mengembalikan kepercayaan publik.

Riau ke depan harus berhenti menjadikan sumber daya alam sebagai kutukan. Ia mesti menjadi berkah yang dikelola dengan akal sehat, ilmu pengetahuan, dan keberpihakan pada generasi mendatang.

Pemimpin Riau 2026 tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi harus berani bertanggung jawab. Tidak cukup hanya populer, tetapi harus bersih dan berpihak.

Dari Luka Menuju Doa

Akhirnya, tahun 2025 kita lepas dengan satu kesadaran: Riau terlalu berharga untuk terus dikhianati.

Jika 2025 adalah tahun luka, maka 2026 harus menjadi tahun pemulihan. Bukan dengan janji-janji besar, tetapi dengan kerja kecil yang konsisten dan jujur.

Selamat tinggal 2025.

Terima kasih atas pelajaran pahit dan manisnya.

Selamat datang 2026—semoga Riau menemukan jalannya kembali,lebih adil, lebih beradab, dan lebih manusiawi. Semoga! ***

Mardianto Manan adalah Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Riau (UIR).