Kepulauan Meranti, Riau, sejak dahulu terdapat banyak kilang pengolah sagu, baik tradisional maupun modern. Dari pengolahan tumbuhan khas Meranti itu, tak sedikit pula menghasilkan limbah sagu yang disebut repu. Namun, hingga tahun 2016 ini, limbah yang bisa menambah pundi-pundi rupiah ini belum maksimal dimanfaatkan.

Repu merupakan ampas sisa dari pengelolaan batang sagu untuk mendapatkan pati. Di Kepulauan Meranti, hingga saat ini repu terbuang begitu saja di setiap kilang pengolah sagu. Paling-paling mentok, limbah dimanfaatkan peternak untuk pakan (terkanannya) dan itupun dalam skala kecil.

Seperti yang dilakukan Rulianto, warga Jalan Dorak Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau. Sejak 2 tahun belakangan (2014-2016), suami Yani ini rupanya beternak itik petelor sebanyak 400 ekor. Dimana, pakan ternak untuk ratusan itik ini mereka gunakan repu sagu.

Menurut Rulianto, ketika ditemui GoRiau di kediamannya, Rabu (3/8/2016), untuk memberi makan 400 ekor itik petelor itu, setidaknya Ia harus menyiapkan sekitar 240- 260 kilogram repu sagu perhari. Itik ini harus diberikan makan sebanyak 3 kali dalam satu hari, dimana satu kali makan menghabiskan 2 goni ukuran 50kg. "Satu kali makan dua goni 50kg, tiga kali makan dalam satu hari," ujar Rulianto.

Untuk menggunakan repu sebagai pakan, Rulianto harus mencampurkannya dengan por. Por digunakan untuk kualitas telor, sementara repu untuk membuat itik kenyang.

Namun, Rulianto mengaku kewalahan dalam hal memasokkan pakan untuk ternaknya. Bukan dari segi rupiah yang harus dikeluarkan (untuk membeli repu), melainkan jarak tempuh jauh untuk mengambil pakan itulah yang menjadi kendala. "Repu itu tidak bayar, tapi jaraknya jauh dari rumah ini," ujar Rulianto yang saat itu mengatakan harus ke Sali guna mendapatkan repu.

Untuk menggantikan repu sebagai pakan ternak, Ruli juga kesulitan mendapatkan gabah. Sehingga, di pertengahan tahun 2016 Ruli menghentikan aktivitasnya sebagai peternak itik. Dengan berkurangnya peternak di Meranti, sudah barang tentu berkurang pula pemanfaatan repu sebagai pakan.

Menanggapi kurang maksimalnya pemanfaatan limbah sagu di Kepulauan Meranti, padahal bernilai ekonomis, menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Irmansyah, sebenarnya hanya menunggu waktu. Pasalnya, mereka yang terdiri dari Perikanan, Pertanian, BLH, dan Bappeda, telah mencari formulasi pengelolaan repu.

Puncaknya, pada tahun 2015 lalu, Kepulauan Meranti telah membuat MoU dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Setidaknya ada tiga turunan yang akan diolah dari repu, diantaranya pakan ternak, pupuk, dan bio energi.

"Ujicoba pengolahan repu ini butuh biaya. Kita sudah usulkan ke pusat melalui Bappeda (sebagai ketua tim) sebesar Rp5 miliar. Informasi terakhir sudah di Bappenas, kita harap 2017 itu bisa terealisasi," tambahnya.

Irmansyah juga menjelaskan, teknologi sederhana pengolahan repu jadi pupuk, pakan ternak, dan bio energi ini akan diterapkan di beberapa kilang sagu terdekat. Kalau ini berhasil, akan diterapkan pula pada beberapa kilang sagu lainnya. Sementara dinas terkait seperti Pertanian dan Perikanan diharapkan harus bisa memanfaatkan dengan maksimal.

"Intinya, mau diapakan repu ini kalau memang sudah jadi pakan ternak, pupuk, dan bio energi. Semoga pihak terkait bisa memaksimalkan pemanfaatannya," harap Irmansyah.

Untuk target jangka panjang, sesuai keterangan Irmansyah, dari kerjasama banyak pihak ini (Bappaeda, BLH, Perikanan, dan DPPKP Meranti) bisa menerbitkan Perda tentang limbah sagu. Dimana, kedepannya nanti limbah-limbah sagu seperti repu tidak bisa dibuang sembarangan. Sebab, sesuai UU nomor 32 tahun 2009, ancaman sangat berat bagi pembuang sampah sembarangan.

Kemudian, dari sisi ekonomi, penerapan sistem pengelolaan repu ini tentu akan meningkatkan penghasilan masyarakat. Sebab, kata Irmansyah, mereka hanya mencari formulasi pengelolaan limbah di tiap kilang sagu. Sementara untuk mengelolanya diserahkan langsung ke pemilik kilang dan melibatkan masyarakat sekitar. "Misal bio energi, bisa untuk kilang itu sendiri serta masyarakat yang ada di sekitar. Sementara pakan ternak dan pupuk akan dimanfaatkan oleh dinas perinakan dan pertanian," ujar Irmansyah lagi.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kepulauan Meranti, Yulian Norwis, menyatakan kesiapan penuh dalam hal pengembangan ternak. Kata laki-laki yang akrab dipanggil Icut itu, jelas menjadi tanggungjawab DPPKP, dan itu akan diterapkan dengan sistem swadaya masyarakat. "Itu akan betul-betul digerakkan kalau pakan ternak telah tercipta dan diolah dengan baik," kata Icut.

Sebagai gambaran, besarnya potensi pendapatan dari pengelolaan repu didukung dengan banyaknya kilang sagu. Berdasarkan keterangan Iwin salah seorang pelaku usaha sagu, sesuai datanya tahun 2014, untuk di Kepulauan Meranti saja ada sekitar 63 kilang sagu aktif dengan produksi pati sagu seberat 100 - 500 ton perbulan. Belum lagi kilang-kilang kecil yang produksinya di bawah 100 ton perbulan.

Secara rinci, memang Iwin tidak bisa memperkirakan berapa jumlah repu yang dihasilkan tiap hari di Kepulauan Meranti, namun, Ia menggambarkan. Kata Iwin, untuk satu tual sagu yang diolah rata-rata mempunyai berat 70 kilogram.

Dari 70kg tual sagu itu, akan menghasilkan sagu basah seberat lebih kurang 30 kg (atau sekitar 45 persen tiap tual sagu). Sedangkan limbah uyung atau kulit sagu sekitar 15 kg untuk tiap tual, sisa pengolahan itulah menjadi ampas atau repu yang saat ini belum terkelola dengan baik.

Setidaknya itulah sedikit gambaran potensi repu sagu yang banyak dihasilkan kilang sagu di Kepulauan Meranti. Kalau memang repu ini telah berhasil dikeloladengan baik menjadi pakan ternak, pupuk, dan bio energi, tentu sangat mendukung program pemerintah daerah membuat sentra pertanian dan perikanan, di Desa Gogok Kecamatan Tebingtinggi Barat. Dinas Pertanian dan Perikanan Kepulauan Meranti memang telah membuat program sentra sayur mayur, serta pembibitan ikan di sana. ***