KEMULIAAN bulan suci ramadhan selalu dinantikan dan dirindukan oleh setiap ummat muslim di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali ummat muslim di indonesia. Namun bulan suci ramadhan akan berakhir dalam beberapa hari kedepan, perpisahan ini tentunya akan melahirkan kesedihan dan kerinduan dengan bulan yang pahala setiap amalan dilipatgandakan, bulan yang penuh berkah dan keampunan, serta bulan yang didalam nya juga terdapat lailatul qadar yang nilai ibadahnya setara dengan seribu bulan. 

Hampir sebulan penuh kita menjalankan ibadah di bulan Ramadhan tentu banyak hal kebaikan dan hikmah yang telah diperoleh. Ramadhan bukan hanya tentang menjauhkan diri dari makanan dan minuman dan hal-hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa empati, kasih saying dan jiwa melayani, serta membangun komitmen terhadap nilai-nilai bagi seorang pemimpin.

Disamping itu pula, Ramadhan telah memberikan banyak pelajaran dan nilai yang bisa diaplikasikan dalam politik, seperti halnya integritas, keadilan, keterlibatan sosial, keterbukaan, dan partisipasi demokrasi. Pelajaran ini tentunya akan membawa dampak positif dalam menjalankan politik yang baik dan membangun masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera.

Tarbiyah Ramadhan; Rasa Empati seorang Pemimpin

Berpuasa selama bulan Ramadhan memberikan kesempatan bagi pemimpin untuk merasakan kesulitan yang dihadapi oleh masyarakatnya yang kurang beruntung dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin yang empatik akan lebih mudah dalam membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Rasa empati ini adalah hal yang esensial bagi seorang pemimpin dalam mejalankan seluruh program dan janji politik yang telah diucapkannya. Banyak masyarakat yang kurang beruntung dan tidak memiliki akses terhadap program pemerintah yang dapat mensejahterakan mereka dikarenakan keterbatassan yang mereka milikii. Rasa empati inilah yang mampu medorong seorang pemimpin untuk menyusun kebijakan yang mewakili harapan masyarakat yang dipimpinya, maka disinilah diperlukan hadirnya seorang pemimpin yang dapat merasakan dan berempati kepada mereka.

Tarbiyah Ramadhan; Pelayanan dalam Politik

 Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa pelayanan adalah atribut yang mulia dan bagian penting dari seorang pemimpin yang baik. Salah satu tujuan utama Ramadhan adalah untuk melahirkan rasa peduli dan empati dengan kondisi kehidupan sosial di sekitarnya. Ramadhan mengajarkan seorang Pemimpin agar mampu memahami kebutuhan dan tantangan yang ada di masyarakat dan siap untuk melayani mereka secara efektif.

Dalam politik, pelayanan berarti menempatkan kebutuhan rakyat di atas kepentingan pribadi dan partai nya. Memimpin berarti mendengarkan keprihatinan masyarakat dan bekerja untuk menemukan solusi bagi masalah mereka. Ramadhan telah mengajarkan kita bahwa pelayanan bukan hanya tugas tetapi juga cara hidup. hal ini mendorong pemimpin untuk menciptakan kebijakan dalam rangka memberdayakan masyarakat yang kurang beruntung dan menciptakan peluang yang sama bagi semua orang untuk berhasil. Pelayanan yang dilakukan dengan sepenuh hati, ramah, professional dan bertanggunggangjawab kepada masyarakat adalah ciri pemimpin yang ilkhlas dalam mewujudkan janji-janji politik nya.

Tarbiyah Ramadhan; Partisipasi Demokrasi

 Ramadhan memperkuat nilai-nilai demokrasi, seperti partisipasi, respek terhadap perbedaan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Oleh karena itu, Ramadhan dapat menginspirasi para pemimpin politik untuk mempraktikkan nilai-nilai ini dalam memimpin dan membangun masyarakat yang inklusif.

Berkaitan dengan hadirnya bulan Ramadhan menjelang kontestasi Pemilu 2024, diharapkan mampu meredam potensi konflik yang akan muncul dalam Pemilu nantinya. Suasana damai dan sejuk di bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan kebaikan ini diharapkan mampu meminimalisir ketegangan politik menjelang Pemilu 2024. Puasa Ramadhan disinyalir dapat menghilangkan sikap egois, dan arogansi politik akan kekuasaan sehingga tidak ada lagi kebencian dan permusuhan antar sesama anak bangsa.

Seorang Politisi baik di level legislatif maupun eksekutif sejatinya adalah pemimpin bangsa yang mencetuskan beberapa kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Pertarungan dalam pesta demokrasi harus dilakukan secara fair, jujur, dan bertanggungjawab. Persaingan harus dilakukan secara sehat dan tidak ada unsur kecurangan sehingga semua peserta dapat menerima kekalahan dan kemenangan nantinya dengan lapang dada. Sebagaimana  refleksi yang diajarkan oleh bulan Ramadhan yang suci, pesta rakyat harus dilakukan dengan kejujuran. Pemimpin bangsa ini harus terseleksi dengan jalan demokratis, jujur dan terlepas dari kecurangan.

Harapan besar dengan hadirnya bulan Ramadhan ini dapat menjadi momentum untuk merefleksikan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan persaudaraan. Dalam tahun politik ini, penting bagi kita untuk membangun komunikasi yang baik dengan semua stakeholder dan menerima perbedaan politik secara damai. Oleh karena itu, hadirnya Ramadhan dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat persatuan dan keharmonisan diantara pihak-pihak yang memiliki pandangan politik yang berbeda

Hikmah lain yang dapat dipetik adalah kehadiran bulan suci Ramadhan mengajarkan makna kesucian yang identik dengan kejujuran dan ketulusan, sehingga mampu meredam ketegangan politik yang selama ini terjadi. Selain itu, bulan Ramadhan juga membentuk karakter pemimpin bangsa yang berjiwa luhur dan berakhlak mulia yang merupakan cerminan dari proses pemilihan pemimpin bangsa ini dengan cara yang bermartabat, demokratis, jujur, dan adil. ***

* Penulis adalah Ketua DPC Partai Gerindra Kab. Pelalawan