PANGEAN, GORIAU.COM - 'Rayo Saronam' atau di bagian lain di wilayah Riau dikenal dengan Hari Raya Enam merupakan sebuah perayaan setelah hari Raya Idul Fitri. Di Pangean Kabupaten Kuantan Singingi, perayaan 'Rayo Saronam' dilakukan dengan berziarah di pemakaman.

Menurut Kepala Suku Melayu, Ubandi Yusuf yang bergelar Datuk Topo, 'Rayo Saronam' merupakan peninggalan leluhur yang sampai saat ini masih lestari. Dimana, seluruh masyarakat bersama-sama berziarah ke pemakaman nenek moyang.

Di Pangean sendiri, lokasi yang dijadikan sebagai pemakaman oleh masyarakat berada di Bukit Sangkar Burung Puyuh, Koto Pangean. Di lereng-lereng bukit ini dipenuhi kuburan. Sedangkan, di atas bukit terdapat sebuah mesjid tua. Selain mesjid, juga terdapat rumah pesukuan yang ada di Pangean.

Untuk pesukuan, di Pangean sendiri ada empat suku besar dengan empat Datuk atau pemimpin suku. Adapun suku-suku tersebut yakni Melayu, Camin, Mandailing dan Paliang.

"Setelah membersihkan setiap kuburan yang dilanjutkan ziarah, masyarakat naik ke rumah 'godang'," ujar Datuk Topo.

Di rumah tersebut, lanjut Datuk Topo, datuk dan para ninik mamak akan mengajari anak keponakan dengan petuah-petuah adatnya. "Disini, petuah akan turun dari Mamak (red: Paman) ke Ponakan," ujarnya.

"Pada akhirnya, kegiatan ini akan mempererat tali silaturahmi sesama masyarakat," tambah Datuk Topo.

Dalam sistem adat kenegrian Pangean, laki-laki dan perempuan dari satu suku dilarang menikah. Karena, mereka adalah saudara. Jika aturan ini dilanggar, maka mereka harus diberi ganjaran diusir dari kampung dan berhutang satu kerbau putih.

"Hendaknya, dengan adanya silaturahmi ini, para pemuda dan pemudi tahu mana saudara mereka, kalau mereka sudah duduk satu rumah," jelas Yusuf.(san)