TELUK KUANTAN – Yunisman menyadari, ijazah STM (Sekolah Teknik Menengah) jurusan Listrik yang dikantonginya tidak bisa diandalkan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal, apa lagi jadi pekerja kantoran. Namun Yunisman juga menyadari bahwa hidup tidak boleh berpangku tangan. Dia harus bekerja agar bisa punya penghasilan.

Warga Desa Benai Kecil, Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) ini, tidak keberatan melakukan pekerjaan kasar. Bahkan menjadi buruh galian C, cukup lama dijalaninya.

Kini, di kampungnya Yunisman tak lagi dikenal sebagai buruh galian C. Pria berumur 41 tahun ini kini dikenal sebagai petani cabai yang sukses, dengan keuntungan sekali panen mencapai Rp65 juta.

Yunisman mengisahkan, dia mulai tertarik bertanam cabe setelah menonton tentang cara bercocok tanam cabai, di jejaring sosial YouTube beberapa tahun lalu.

''Pada video tersebut saya melihat cabainya sangat bagus, tingginya mencapai 2,5 meter dan buahnya lebat. Saya jadi terinspirasi. Kemudian dengan niat yang besar, saya pun mulai bertanam cabai,” kata Yunisman, di Benai Kecil, pada pertengahan Mei 2017.

Lanjut Yunisman, setelah dipraktikkan, pekerjaannya tidaklah semudah yang dibayangkan dan hasilnya tidaklah seindah yang diharapkan.

Berbagai tantangan harus dihadapinya. Seperti susahnya mendapatkan bibit berkualitas serta sulitnya mengatasi berbagai penyakit dan hama tanaman cabai.

''Ternyata tidak mudah mendapatkan bibit berkualitas. Juga tidak mudah mengatasi penyakit dan hama yang menyerang cabai. Salah satu hama cabai adalah jamur yang menyerang bagian akar,'' ujarnya.

Sumber air yang cukup jauh dari kebun, juga menjadi masalah bagi Yunisman. Sebab, tanaman cabe tidak bisa lahannya terlalu kering. Kalau jarang turun hujan, maka cabai harus disiram dengan air, agar tanahnya tetap lembab.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/16092017/2-okejpg-6393.jpg

''Sementara sumber airnya jauh dari kebun. Karena kekeringan, sebagian tanaman cabe mati atau bunganya gugur sehingga tak menjadi buah,'' jelasnya.

Meski menghadapi berbagai masalah, namun tidak menyurutkan semangat Yunisman untuk terus berkebun cabai. Untuk memperluas pengetahuannya tentang budidaya cabai, Yulisman bergabung dengan Komunitas Petani Cabai Indonesia di jejaring sosial Facebook.

Ternyata benar, setelah bergabung Komunitas Petani Cabai Indonesia, Yunisman mendapatkan banyak pengetahuan mengenai budidaya cabai dari rekan-rekannya di komunitas tersebut.

''Saya punya teman dekat, kenal di Facebook, yang tinggal di daerah Sumatera Utara. Hampir setiap malam kami teleponan, berdiskusi tentang cabai. Padahal belum pernah bertemu sebelumnya. Sampai saya video call dengan dia, untuk menunjukkan kondisi tanaman cabai saya yang seluas 4.000 meter persegi,'' urainya.

Pada tahun 2015 lalu, sambung Yunisman, dia diajak bergabung menjadi mitra bina PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Menganggap akan sangat menguntungkan, maka Yunisman memutuskan menjadi mitra bina PT RAPP.

Sejak saat itu, Yunisman semakin bersemangat dan tekun berkebun cabai. Ternyata, setelah menjadi mitra bina PT RAPP hasil panen cabenya meningkat tajam dibanding sebelumnya. Sekali panen cabai, Yunisman bisa meraup keuntungan sekitar Rp65 juta.

''Alhamdulillah, setiap panen bisa mencapai 3 ton. Kalau sekarang, keuntungannya bisa mencapai Rp65 juta. Ini berkat pendampingan dan dukungan yang diberikan PT RAPP kepada kami,'' akunya.

Atas keberhasilannya itu, Yunisman diminta PT RAPP membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada 20 petani di daerahnya.

Sementara itu, Community Development Officer PT RAPP Mukhamad Idris mengakui, Yunisman merupakan petani yang tidak pernah lelah untuk belajar, serta sangat fokus pada tujuannya.

''Keuletan dan konsistensinya patut menjadi inspirasi bagi petani lainnya. Orangnya sangat terbuka menerima masukan. Semua masukan dari pihak luar ia terima demi kemajuan usaha yang digelutinya,'' kata Mukhamad Idris.(bas)